PravadaNews – Di balik upaya mencari pengalaman berbeda dalam hubungan intim, penggunaan kondom bergerigi menjadi salah satu pilihan yang kian dikenal karena menawarkan sensasi tambahan melalui tekstur khusus pada permukaannya.
Namun, seperti halnya produk kesehatan lainnya, kenyamanan dan keamanan tetap menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.
Meski memiliki fungsi yang sama dengan kondom biasa dalam membantu mencegah kehamilan dan melindungi dari infeksi menular seksual (IMS), kondom dengan tekstur tambahan ini dapat memberikan respons berbeda pada setiap pengguna.
Bagi sebagian orang mungkin terasa nyaman, sementara bagi lainnya justru dapat menimbulkan rasa kurang nyaman, terutama jika memiliki kulit sensitif atau alergi terhadap bahan tertentu.
Ada beberapa efek samping memakai kondom bergerigi yang dapat dialami sebagian pengguna maupun pasangannya, terutama jika memiliki kulit sensitif atau tidak cocok dengan bahan tertentu.
Efek samping memakai kondom bergerigi yang cukup sering dikeluhkan adalah iritasi pada area genital.
Tekstur bergerigi pada kondom dapat meningkatkan gesekan pada kulit dan area sensitif, sehingga memicu kemerahan, rasa perih, atau iritasi ringan, terutama pada pengguna dengan kulit sensitif.
Selanjutnya, efek samping memakai kondom bergerigi juga dapat berupa reaksi alergi terhadap bahan kondom, terutama yang berbahan lateks.
Pada sebagian orang, kondisi ini dapat menimbulkan gatal, ruam, kemerahan, atau sensasi terbakar setelah penggunaan.
Memakai kondom bergerigi juga dapat berupa lecet atau luka kecil pada area genital akibat gesekan tambahan dari teksturnya, terutama jika pelumas yang digunakan kurang.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko iritasi maupun infeksi bila kebersihan area genital tidak dijaga dengan baik.
Oleh karena itu, tidak semua pasangan merasa nyaman menggunakan kondom bergerigi.
Pada sebagian orang, tekstur yang lebih menonjol dapat menimbulkan tekanan atau gesekan berlebih sehingga memicu rasa kurang nyaman hingga nyeri ringan saat berhubungan seksual.
Jadi, iritasi atau luka kecil pada area genital akibat gesekan dapat membuat lapisan kulit menjadi lebih sensitif dan mudah terpapar kuman.
Jika kebersihan area genital tidak dijaga dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi bakteri maupun jamur.














