PravadaNews – Peningkatan nilai ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) belum cukup hanya dilihat dari besarnya perdagangan, tapi juga bagaimana manfaat ekonomi dari komoditas tersebut dapat dirasakan hingga tingkat petani dan pekebun.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mendorong agar penguatan industri sawit dilakukan dari sektor hulu hingga hilir sehingga nilai tambah tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah.
“Yang paling penting adalah bagaimana nilai tambah itu kembali kepada petani dan pekebun. Produktivitas kita tingkatkan, kemudian hilirisasi kita dorong, jadi dari hulu sampai hilir harus kuat,” kata Amran dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu produsen utama sawit dunia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas ini melalui penguatan produktivitas, peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, serta pengembangan industri pengolahan.
“Pertanian harus menghasilkan, harus memberikan nilai tambah. Kita ingin produk pertanian Indonesia semakin banyak masuk pasar dunia dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani,” tegas Mentan Amran.
Dorongan hilirisasi itu disampaikan di tengah meningkatnya kinerja ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari–Juli 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai US$14,79 miliar pada Januari–Juli 2026. Angka tersebut meningkat 5,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$14,02 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan peningkatan ekspor ini dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar global, termasuk minyak sawit.
“Pada Juli tahun 2026, secara umum harga komoditas di pasar global menunjukkan peningkatan secara year on year. Kenaikan harga komoditas pertanian utamanya didorong oleh peningkatan harga minyak sawit,” ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Selasa (1/9).
Meski nilai ekspor meningkat, volume ekspor CPO dan turunannya mengalami penurunan 0,97% menjadi 13,51 juta ton pada Januari–Juli 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, volume ekspor tercatat sebesar 13,64 juta ton.















