Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja saat ditemui di Transtudio Mal Cibubur. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Harga Ritel Rawan Naik Akhir Tahun

Harga Ritel Rawan Naik Akhir Tahun

PravadaNews – Belanja akhir tahun yang biasanya dinanti masyarakat kini dibayangi kemungkinan kenaikan harga barang. Kekhawatiran serupa dirasakan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) seiring masuknya stok baru berbiaya lebih tinggi.

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja mengungkapkan, harga saat ini masih relatif terjaga karena sebagian produk berasal dari stok lama. Namun, kondisi tersebut diperkirakan berubah ketika peritel memperbarui persediaan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Pergantian stok berlangsung menjelang triwulan IV, periode puncak penjualan ritel kedua setelah Ramadan dan Idul Fitri. Pada periode ini, produk baru diproduksi saat harga bahan baku mulai meningkat.

“Stok baru ini berasal dari hasil produksi yang sudah menggunakan harga material yang naik pada triwulan II dan triwulan III,” jelas Alphonzus saat ditemui di Trans Studio Mal Cibubur, dikutip Sabtu (18/7/2026).

Menurutnya, biaya produksi yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi harga jual setelah stok lama berkurang. Kenaikan biaya logistik turut menambah ongkos distribusi barang hingga ke konsumen.

Dampaknya dikhawatirkan lebih terasa bagi masyarakat kelas menengah bawah yang daya belinya dinilai belum sepenuhnya pulih. Karena itu, kebijakan semester kedua dinilai perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan belanja masyarakat.

“Sebab, stimulus atau insentif untuk retail akan sia-sia kalau daya beli masyarakat tidak ada dan tidak ada yang berbelanja,” tutur pelaku industri tersebut.

Di tengah kondisi itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34%. Inflasi bulanan tercatat 0,44%, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,79%.

Tekanan harga juga diperkirakan meningkat seiring kenaikan biaya bahan baku. Hal itu tercermin dari ekspektasi pelaku usaha terhadap perkembangan harga dalam beberapa bulan berikutnya.

Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Ekspektasi Harga Umum Agustus 2026 mencapai 178,0, naik dari Juli sebesar 175,8.

“Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Agustus 2026 diprakirakan meningkat, sementara pada November 2026 diprakirakan relatif stabil,” tulis Bank Indonesia yang diunggah dalam laman resminya, Kamis (9/7).

Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 tetap berada pada level optimistis sebesar 117,8. Namun, angkanya menurun dibandingkan Mei yang mencapai 120,9.

Penjualan eceran Juni 2026 juga diprakirakan turun 0,8% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan penurunan 1,5% pada Mei. Pergerakan ini menunjukkan penjualan bulanan belum kembali menguat.

Menjelang triwulan IV, tekanan biaya dan kondisi daya beli menjadi tantangan bagi industri ritel menghadapi musim belanja akhir tahun. Karena itu, penguatan daya beli menjadi bagian penting untuk menjaga momentum belanja akhir tahun ketika tekanan harga mulai meningkat.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *