Kiki, seorang peternak ayam petelur di Gunung Sindur. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Peternak Ayam Petelur Tercekik Harga Pakan

Peternak Ayam Petelur Tercekik Harga Pakan

PravadaNews – Peternak ayam petelur di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, menghadapi tekanan usaha akibat harga telur yang melemah di tengah kenaikan biaya pakan. Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak semakin tipis karena biaya produksi meningkat, sementara harga jual telur justru mengalami penurunan.

Kiki, peternak ayam petelur di Gunung Sindur, mengatakan harga telur sempat mencapai Rp23.800 per kilogram sebelum turun menjadi sekitar Rp22.000 per kilogram. Penurunan tersebut dinilainya cukup signifikan dan menambah beban peternak yang harus menanggung biaya operasional tinggi.

Di sisi lain, harga pakan ayam justru mengalami kenaikan. Harga pakan yang sebelumnya Rp375.000 per karung ukuran 50 kilogram kini mencapai Rp390.000 per karung.

Kiki mengatakan kenaikan harga pakan tersebut mulai dirasakan sekitar dua minggu terakhir. Sementara itu, harga telur di posko penjualan bertahan di kisaran Rp22.500 per kilogram selama hampir dua bulan.

“Jadi biaya untuk ayam sendiri lumayan tinggi. Dari pakan juga mulai naik ke Rp390.000 per 50 kilogram, sebelumnya Rp375.000 per 50 kilogram. Harga telurnya juga turunnya jauh banget, ya bingung juga sih,” kata Kiki saat diwawancarai, Senin (26/10/2026).

Menurut Kiki, kombinasi kenaikan biaya pakan dan melemahnya harga telur membuat kondisi usaha peternak semakin sulit. Margin keuntungan yang diperoleh pun semakin tergerus karena pengeluaran bertambah ketika harga jual belum menunjukkan perbaikan.

Tekanan tersebut juga dirasakan ketika peternak menjual telur kepada pengecer. Kiki mengaku menjual telur kepada pengecer dengan harga Rp24.000 per kilogram, meskipun harga telur di posko berada di kisaran Rp22.500 per kilogram.

Perbedaan harga itu terkadang memicu keluhan dari pelanggan. Sejumlah pelanggan mempertanyakan harga yang dinilai masih mahal, padahal peternak juga harus mempertimbangkan biaya produksi dan kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan usaha.

“Ada juga beberapa orang yang langganan saya komplain karena saya kasih harga Rp24.000. Cuma ya kita mau gimana, kita juga mau cari untung,” ujar Kiki.

Kiki juga menyoroti pola penjualan telur ketika harga mengalami penurunan. Berdasarkan pengalamannya, harga yang lebih murah tidak selalu membuat penjualan meningkat, bahkan kondisi sebaliknya justru terjadi.

“Kalau justru harga turun tuh malah enggak laku. Kalau naik, orang malah laku,” kata Kiki.

Kondisi tersebut membuat peternak kesulitan menentukan strategi penjualan di tengah perubahan harga. Di satu sisi, peternak harus menjaga harga agar usaha tetap menghasilkan keuntungan, tetapi di sisi lain mereka juga menghadapi keluhan pelanggan dan permintaan yang tidak selalu stabil.

Dengan kondisi biaya produksi yang meningkat dan harga jual yang belum membaik, Kiki mengingatkan calon peternak agar mempertimbangkan situasi pasar sebelum memulai usaha ayam petelur. 

Menurut Kiki, keputusan memulai usaha saat ini berisiko menimbulkan tekanan keuangan apabila tidak diimbangi perhitungan biaya dan potensi pendapatan yang matang.

“Jangan dulu untuk sekarang. Karena nanti kaget sendiri dengan harga sekian, dengan pakan yang harganya sekian. Mendingan stop aja dulu,” tutur Kiki.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *