Timnas Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia 2026. (Foto: Dok. IG/Timnasionalspanyol)

Beranda / Olahraga / Rekor FIFA Raup Rp269 Triliun dari Piala Dunia 2026

Rekor FIFA Raup Rp269 Triliun dari Piala Dunia 2026

PravadaNews – Piala Dunia 2026 tak hanya mencetak sejarah dari sisi penyelenggaraan dengan format 48 tim, tetapi juga memecahkan rekor bisnis. 

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) diperkirakan membukukan pendapatan sekitar US$15 miliar atau setara Rp269,1 triliun, jauh melampaui target awal sebesar US$11 miliar. Angka tersebut menjadi pemasukan terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Pendapatan fantastis itu diungkap dalam laporan The Guardian yang menyebut FIFA telah menyampaikan proyeksi realisasi pendapatan kepada asosiasi-asosiasi anggotanya. Dengan capaian tersebut, FIFA memperoleh tambahan sekitar US$4 miliar atau Rp71,76 triliun dibandingkan target yang sebelumnya ditetapkan.

Lonjakan pendapatan itu mencerminkan besarnya nilai ekonomi Piala Dunia 2026. Selain berasal dari penjualan tiket resmi, pemasukan FIFA juga terdongkrak oleh aktivitas penjualan kembali (secondary market), hak siar, sponsor, lisensi produk resmi, hingga berbagai kerja sama komersial selama turnamen berlangsung.

Salah satu sumber pemasukan yang mengalami peningkatan signifikan berasal dari transaksi penjualan kembali tiket pertandingan melalui platform resmi FIFA. Dalam mekanisme tersebut, FIFA mengambil komisi sebesar 15 persen dari penjual dan 15 persen dari pembeli pada setiap transaksi.

Tingginya permintaan membuat harga tiket, terutama untuk laga final, melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan tersebut, final Piala Dunia 2026 menjadi ajang olahraga dengan harga tiket termahal dalam sejarah penyelenggaraan pertandingan olahraga di Amerika Serikat.

Pada portal Last Minute Sales milik FIFA, tiket final sempat ditawarkan seharga US$32.000 atau sekitar Rp574,08 juta per lembar. Sehari kemudian seluruh tiket tersebut telah habis terjual.

Sementara di platform penjualan kembali resmi FIFA, harga tiket bahkan sempat menyentuh US$2,3 juta atau sekitar Rp41,26 miliar. Nilai fantastis itu menunjukkan tingginya antusiasme publik untuk menyaksikan langsung laga final.

Di balik rekor pendapatan tersebut, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 juga menuai kritik. Sports Illustrated melaporkan tingginya harga tiket, mahalnya produk resmi, hingga jeda hidrasi (hydration breaks) yang disponsori secara komersial menjadi sorotan sepanjang turnamen.

Sejumlah pengamat menilai komersialisasi yang semakin besar membuat sebagian pendukung sepak bola kesulitan menikmati pertandingan secara langsung karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan.

Meski demikian, besarnya pemasukan FIFA dinilai tetap berpotensi memberikan dampak positif apabila sebagian besar dana tersebut kembali disalurkan kepada asosiasi anggota di seluruh dunia.

Menurut laporan tersebut, mekanisme pembagian pendapatan memang belum diumumkan secara rinci. Namun, dana itu diproyeksikan akan digunakan untuk mendukung pengembangan sepak bola, mulai dari kompetisi elite, pembinaan usia muda, hingga pengembangan sepak bola putri di berbagai negara.

Pendapatan jumbo tersebut juga diperkirakan semakin memperkuat posisi Presiden FIFA Gianni Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA pada 2027, ketika ia disebut berpeluang kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat sekaligus terakhir.

Di sisi lain, FIFA juga mengalokasikan hadiah terbesar sepanjang sejarah bagi peserta Piala Dunia 2026. Tim juara, Spanyol, menerima hadiah sebesar US$51 juta atau sekitar Rp913,97 miliar.

Sementara Argentina sebagai runner-up memperoleh hadiah US$34 juta atau sekitar Rp609,31 miliar.

Secara keseluruhan, FIFA menggelontorkan total hadiah dan pembayaran kepada seluruh peserta sebesar US$871 juta atau sekitar Rp15,6 triliun untuk 48 negara peserta. 

Nilai tersebut merupakan rekor baru dan mencakup tambahan lebih dari US$100 juta setelah adanya permintaan dari sejumlah federasi sepak bola Eropa guna membantu menutup biaya partisipasi di turnamen yang digelar di tiga negara tersebut.

Dengan pendapatan mencapai Rp269,1 triliun, Piala Dunia 2026 menetapkan standar baru sebagai turnamen sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar dalam sejarah. 

Besarnya pemasukan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa industri sepak bola global kini semakin ditopang oleh berbagai aktivitas komersial di luar pertandingan di lapangan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *