Ilustrasi uang Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Istimewa)

Beranda / Ekonomi / Rupiah Tertekan Akibat Konflik AS-Iran

Rupiah Tertekan Akibat Konflik AS-Iran

PravadaNews – Pergerakan rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mengawali perdagangan hari ini, Rabu (2/9/2026), mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren penurunan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,15 persen atau 26 poin ke level Rp17.770 per dolar AS. Posisi tersebut sekaligus membuat rupiah semakin menjauh dari level penutupan Selasa (1/9), ketika rupiah telah melemah 0,12 persen atau 22 poin ke Rp17.744 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah pun kembali menjadi perhatian di tengah pergerakan dolar AS dan dinamika pasar keuangan global yang turut memengaruhi sentimen investor terhadap aset-aset di pasar domestik.

Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong memprakirakan pergerakan rupiah hari ini akan melemah.

Faktor yang mempengaruhi masih didominasi faktor eksternal yang mendorong penguatan dolar AS.

“Rupiah diprakirakan melemah di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Imbal hasil hasil obligasi AS yang meningkat dan menguat indeks dolar AS,” kata Lukman dalam analisisnya.

Nilai tukar rupiah, tambah Lukman, akan bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat di atas level 99.

Tindakan AS yang kembali melakukan agresi militer ke Iran, membuat situasi di Timur Tengah kembali memanas.

Sehingga harga minyak dunia kembali melonjak dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi.

Harga minyak ditutup naik hampir 5 persen pada Selasa kemarin seiring eskalasi ketegangan AS-Iran.

Imbasnya, imbal hasil obligasi AS naik ke level 4,79 persen, akibat meningkatnya kekhawatiran akan inflasi.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS diikuti dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB).

“Surat Berharga Negara (SBN) naik 3 basis poin menjadi 7,06 persen untuk tenor 10 tahun,” kata Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.

Sedangkan SBN tenor 2 tahun naik 4 basis poin menjadi 6,71 persen. “Koreksi imbal hasil lebih disebabkan oleh faktor ekstern, dibandingkan pelemahan sentimen domestik,” ucap Jessica.

Dalam kondisi itu, menurutnya, outlook SBN tetap konstruktif. Walaupun tingkat suku bunga global yang tinggi dalam waktu lebih panjang.

“Meskipun tekanan higher-for-longer global masih bertahan,” kata Jessica.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *