PravadaNews – Di tengah keterbatasan ekonomi, kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak menjadi harapan besar bagi banyak keluarga kurang mampu.
Bagi anak-anak yang tumbuh dalam kondisi tersebut, Sekolah Rakyat hadir sebagai jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk mengembangkan potensi diri tanpa harus terhalang keadaan ekonomi keluarga.
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan, Sekolah Rakyat dirancang untuk membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera agar tetap memperoleh akses pendidikan dan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan mereka.
Menurut Saifullah, sejumlah siswa berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana, termasuk anak-anak tukang becak dan pemulung, yang juga berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-cita.
“Kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan pendidikan. Dan meraih masa depan yang lebih baik,” kata Saifullah dikutip, Jumat (9/10/2026).
Saifullah juga mengatakan, selama ini terdapat kecenderungan program pendidikan dan beasiswa lebih dahulu melihat prestasi akademik siswa.
Setelah itu, kondisi ekonomi menjadi pertimbangan berikutnya.
Sementara Sekolah Rakyat tidak demikian. Kondisi ekonomi menjadi pertimbangan utama seorang bisa diterima di Sekolah Rakyat atau tidak.
“Sudah belum pintar, yang kedua dari keluarga yang masih belum beruntung. Inilah yang menjadi perhatian khusus dari Presiden Prabowo,” kata Saifullah.
Saifullah menekankan, bahwa Sekolah Rakyat para siswa tidak sebatas mendapatkan pendidikan akademik semata.
Melainkan ditanamkan pendidikan karakter bagi para siswa.
“Siswa bukan saja diberikan materi akademik namun juga pembentukan karakter. Mereka di sekolah rakyat didik agar disiplin dan bertanggungjawab,” ujar Saifullah.
Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Arief Satria mengatakan, program Sekolah Rakyat merupakan kebijakan yang sangat strategis karena berupaya menjangkau kelompok anak yang selama ini cenderung terabaikan dalam kebijakan pendidikan.
Menurut Arief, kebijakan pembangunan pendidikan selama ini sering kali berfokus pada target-target konvensional, terutama anak-anak yang memiliki prestasi akademik tinggi.
Arief kemudian menggambarkan kondisi siswa melalui dua indikator, yakni prestasi akademik dan kondisi ekonomi.
Ada siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi dan berasal dari keluarga mampu.
Ada pula siswa yang berprestasi tetapi berasal dari keluarga kurang mampu sehingga mendapatkan dukungan beasiswa.
Namun, terdapat kelompok siswa yang berada dalam kondisi ekonomi kurang mampu sekaligus belum menunjukkan prestasi akademik yang menonjol.
Kelompok tersebut disebut Arief sebagai “kuadran tiga”.
“Kuadran tiga ini kuadran yang sering diabaikan. Saya senang sekali selama ini saya berpikir, kapan kita harus menuntaskan masalah kuadran tiga karena kuadran tiga inilah sebenarnya persoalan pendidikan di Indonesia,” ujar Arief.
Menurut Arief, belum terlihatnya prestasi akademik seorang anak tidak berarti anak tersebut tidak memiliki potensi.
Arief meyakini para siswa Sekolah Rakyat memiliki potensi besar yang dapat berkembang apabila memperoleh lingkungan pendidikan, pendampingan, motivasi, dan pola pembelajaran yang tepat.
Arief mengatakan, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan akademik seorang anak, mulai dari guru, orang tua, dan sekolah. Namun, faktor dari dalam diri siswa juga memiliki peran yang sangat penting.
Motivasi, kepercayaan diri, dan pola pikir positif, kata dia, menjadi modal penting bagi siswa untuk berkembang dan mencapai kesuksesan.
“Jangan percaya kalau orang tua kita ini adalah orang yang biasa-biasa saja, sekolah juga sekolah biasa saja, gurunya biasa saja, tapi dia bisa jadi orang hebat. Kenapa? Karena punya mindset yang kuat, punya kepercayaan diri yang kuat, punya motivasi yang kuat, punya pola pikir yang positif,” kata Arief.
Karena itu, Arief mengajak para siswa Sekolah Rakyat untuk memiliki mimpi besar dan tidak menjadikan kondisi keluarga sebagai batas bagi cita-cita mereka.
Arief menyebut kisah Laskar Pelangi sebagai salah satu contoh bahwa keterbatasan kondisi ekonomi dan lingkungan tidak harus menghalangi seseorang untuk mengejar cita-cita.
“Orang-orang yang punya cita-cita, orang-orang yang punya mimpi, orang punya motivasi kuat, kepercayaan diri, dia tidak akan mengeluhkan keadaan tapi dia berusaha mengejar mimpi-mimpinya,” ujar Arief.
Dalam kerja sama dengan Kemensos, BRIN akan memberikan dukungan melalui riset dan inovasi, baik untuk pengembangan proses pembelajaran maupun penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan Sekolah Rakyat.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah inovasi penyediaan air bersih bagi sekolah yang masih mengalami keterbatasan pasokan air.
Arief mengatakan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi juga masih menghadapi persoalan pasokan air bersih.
Karena itu, BRIN akan memberikan dukungan melalui peralatan, instrumen, maupun sarana-prasarana hasil riset dan inovasi.
“Kita mendapat dukungan tentang pengadaan dan penyediaan air bersih di gedung-gedung permanen sekolah rakyat. Karena memang di titik-titik tertentu kami mengalami kesulitan untuk bisa memperoleh layanan air bersih,” kata Arief.
Arief menegaskan, BRIN akan mengambil peran sebagai pendukung dalam memperkuat program Sekolah Rakyat melalui hasil riset dan inovasi.
“Kami itu berada di bagian pemain belakang. Tugas pemain belakang apa? Memberikan umpan-umpan, memberikan hasil riset, memberikan hasil-hasil inovasi,” ujar Arief.
Arief berharap dukungan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi para siswa dan membantu memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat di berbagai daerah.
Menurut Arief, kolaborasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi menjadi penting agar berbagai persoalan yang dihadapi Sekolah Rakyat dapat diselesaikan melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi.
“Kalau manfaatnya nyata dan kemudian semua siswa itu mendapatkan edukasi yang tinggi, saya yakin ini adalah amal soleh kita semua,” kata Arief.















