Ilustrasi kegiatan ekspor dan impor. (Foto: Dok. Kementerian Keuangan)

Beranda / Ekonomi / Surplus Dagang Tak Setebal Dulu

Surplus Dagang Tak Setebal Dulu

PravadaNews – Lima bulan pertama 2026 memberi sinyal berbeda bagi perdagangan luar negeri Indonesia. Surplus masih tercatat, tapi tekanannya terlihat membesar dari impor dan defisit minyak dan gas bumi (migas).

Pada Januari–Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$4,03 miliar. Capaian itu jauh di bawah periode sama 2025 yang masih mencapai US$15,38 miliar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar. Nilai itu tumbuh 3,02%, sementara impor naik 15,24% menjadi US$111,33 miliar.

Baca juga: Harga Gas Masuk Agenda Mitigasi PHK

Selisih laju ekspor dan impor tersebut membuat ruang surplus mengecil. Neraca dagang masih positif, tapi ketahanannya tidak sekuat tahun lalu.

Adapun Kementerian Perdagangan mencatat tekanan terbesar masih datang dari sektor migas. Sepanjang Januari–Mei 2026, defisit migas mencapai US$12,28 miliar.

Angka tersebut lebih dalam dibanding Januari–Mei 2025 yang mencatat defisit migas US$7,72 miliar. Dengan kondisi itu, surplus nonmigas harus bekerja lebih berat untuk menjaga neraca tetap positif.

Pada periode Januari–Mei 2026, surplus nonmigas Indonesia tercatat US$16,31 miliar. Namun, capaian ini juga lebih rendah dibanding periode sama 2025 yang mencapai US$23,10 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai, kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan daya tahan secara kumulatif.

“Meskipun neraca perdagangan Mei 2026 defisit, namun secara kumulatif, kinerja perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus, ini membuktikan kinerja perdagangan nonmigas Indonesia masih tetap kokoh di tengah tantangan global,” ujar Budi dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (2/7/2026).

Kemendag juga menempatkan perluasan pasar dan penguatan nilai tambah sebagai arah kebijakan ekspor.

“Ke depan, pemerintah akan terus memperluas akses pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk nasional agar kinerja ekspor tetap terjaga,” Lanjut Mendag Busan.

Di sisi lain, laporan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) yang disusun Eisha M. Rachbini membaca pelemahan surplus sebagai sinyal tekanan pada posisi eksternal. Catatan itu muncul sebelum neraca perdagangan Mei 2026 berbalik defisit.

“Pada April 2026, surplus perdagangan Indonesia hanya mencapai US$0,09 miliar, menjadi yang terendah sejak Mei 2020 di tengah tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut,” tulis INDEF dalam Kajian Tengah Tahun 2026, dikutip Sabtu (4/7).

INDEF menilai, penyempitan surplus terjadi karena impor tumbuh sedikit lebih tinggi dibanding ekspor. Kondisi itu menunjukkan tekanan impor mulai menggerus ruang surplus perdagangan Indonesia.

Pada sektor manufaktur, risiko ini menjadi lebih sensitif karena industri masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan energi impor. Karena itu, INDEF mendorong pendalaman struktur industri, substitusi impor selektif, dan diversifikasi ekspor.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *