PravadaNews – Di tengah upaya penanganan dampak gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Kehadiran sejumlah pejabat pemerintah di lokasi terdampak menjadi bagian dari upaya memastikan penanganan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait akan terus dilakukan selama proses penanganan gempa berlangsung.
Menurutnya, sinergi antarpihak menjadi penting agar berbagai kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani secara cepat dan tepat.
Tito menegaskan, kehadirannya bersama sejumlah menteri lainnya di lapangan bukan sekadar untuk memantau kondisi, tetapi juga memastikan berbagai langkah penanganan dampak gempa berjalan lancar.
Pemantauan langsung diharapkan dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kebutuhan sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang muncul pascabencana.
“Untuk bahan kita melakukan evaluasi dengan semua tim, dengan kementerian-kementerian, Kepala BNPB. Jadi kita tahu titik mana yang memerlukan apa, mana yang rusak jalannya, otomatis Menteri PU (yang memperbaiki),” ujar Mendagri Tito dikutip Rabu (19/8/2026).
Mantan Kapolri itu juga menyoroti pentingnya pemulihan layanan kelistrikan di lokasi terdampak gempa. Dari hasil peninjauan yang belum usai, Mendagri menemui masih ada wilayah yang belum teraliri listrik.
“Saya langsung menelepon Dirut PLN (Darmawan Prasodjo). Timnya turun langsung,” ucap Tito.
Mendagri menegaskan, keselamatan korban menjadi prioritas pada tahap awal penanganan bencana. Masyarakat yang sakit harus segera mendapatkan pengobatan, dan kebutuhan dasar keluarga terdampak harus dipenuhi.
“Prioritas utama, evakuasi dan menolong korban, dan memulihkan infrastruktur dasar: listrik, internet, komunikasi. Kemudian jalan, akses, harus dibuka,” katanya.
Menurut Tito, pemulihan akses dan infrastruktur harus diarahkan terlebih dahulu pada fungsi yang paling mendesak. Termasuk perbaikan jembatan dan penyediaan air minum sebagai kebutuhan dasar.
“Jadi, masyarakat sabar, perlu waktu. Yang penting kita semua turun, bekerja sama (antara pemerintah) pusat, daerah, dan masyarakat,” ucap Tito.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan percepatan pengiriman bantuan bagi masyarakat terdampak gempa NTT. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan total bantuan yang telah dikirim ke wilayah terdampak gempa sebanyak 253 ton logistik.
Logistik tersebut diterbangkan dari Lanud Halim Perdanakusuma dengan menggunakan lima pesawat. Pengiriman bantuan logistik tersebut dipantau langsung oleh Seskab.
“Hari kelima pascabencana, 19 Agustus 2026, jam 4 pagi kembali diberangkatkan lima pesawat menuju NTT. Total membawa 65 ton logistik,” ujar Seskab Teddy.
“Jadi sejak hari pertama, 27 ton sampai dengan hari kelima ini sudah terangkut 253 ton logistik,” tambah Teddy.
Hal ini disampaikan Seskab melalui keterangan tertulis yang diterima media pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Logistik yang dikirim terdiri dari makanan, minuman, tenda, perlengkapan kesehatan, serta berbagai kebutuhan lain. Pemerintah juga menyiapkan dua posko utama untuk mempercepat distribusi bantuan, yakni di Labuan Bajo dan Maumere.















