PravadaNews – Puluhan wajah orang asing hadir dalam sebuah ruang pameran, tapi bukan hanya rupa yang ingin ditampilkan seniman multidisipliner muda Indonesia, Rajata Hakim.
Melalui karya “Terlihat / Terasa”, mantan atlet basket tersebut menghadirkan potret yang dipadukan dengan suara untuk melihat bagaimana manusia mengenali dan memahami satu sama lain.
Pameran tunggal perdana Rajata Hakim ini berlangsung di ArtSphere Gallery, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, hingga 27 September 2026. Sebanyak 63 dari total 150 potret orang asing ditampilkan menggunakan cat akrilik pada kertas kalkir berukuran A4.
Lewat pameran “Terlihat/Terasa”, Rajata mengeksplorasi hubungan antara persepsi, ingatan, dan pengalaman manusia dalam memahami identitas. Wajah menjadi titik awal untuk melihat bagaimana seseorang membentuk pemahaman terhadap orang lain.
“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama. Semakin saksama saya mengamati seseorang, semakin saya menyadari bahwa perhatian tidak serta-merta melahirkan pemahaman. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya,” ujar Rajata dalam keterangan yang diterima, Jumat (18/9/2026).
Selain potret orang asing, Rajata juga menghadirkan karya yang menampilkan sosok Pangeran Diponegoro dengan wajah yang sengaja disamarkan. Pendekatan tersebut membuat identitas figur sejarah itu tidak langsung terlihat dan memberikan ruang bagi pengunjung untuk membangun interpretasi.
“Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat. Biar publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda jingkrak berwarna putih itu siapa,” ungkap Rajata.
Proses berkarya Rajata dalam “Terlihat / Terasa” juga berkaitan dengan arsip dan memori. Konsep amongraga dan amongrasa dalam Project 1830 menjadi bagian dari pendekatan yang mempertemukan proses penciptaan dengan penghayatan terhadap makna karya.
Kurator “Terlihat / Terasa”, Melissa Sunjaya, melihat karya Rajata sebagai upaya untuk memahami bagaimana manusia membangun pengetahuan melalui pengamatan. Karya-karya ini tidak menghadirkan seseorang sebagai sesuatu yang sepenuhnya selesai untuk dipahami.
“Rajata tidak mencoba menghadirkan masa lalu atau seseorang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan dapat dipahami sepenuhnya. Justru melalui keterbatasan pengamatan itu, karya-karyanya membuka pertanyaan tentang bagaimana kita membangun pengetahuan, bagaimana kita mengarsipkan, dan bagaimana pengalaman personal akhirnya ikut membentuk memori kolektif,” jelas Melissa.
Dalam pameran itu, elemen yang belum sepenuhnya sempurna, seperti tepian terbuka dan guratan yang masih menunjukkan proses penciptaan, tetap dipertahankan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cara karya menyampaikan pengalaman manusia yang terus berkembang.















