Ilustrasi Daerah Tertinggal. (Foto: AI/PravadaNews)

Beranda / Daerah / 100% Desa Sabu Raijua Bebas Konflik

100% Desa Sabu Raijua Bebas Konflik

PravadaNews – Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tercatat sebagai daerah berstatus tertinggal.

Sejumlah indikator pembangunan menunjukkan adanya kemajuan di beberapa sektor, namun berbagai tantangan mendasar masih membayangi, terutama terkait akses pendidikan menengah, layanan kesehatan, infrastruktur dasar, dan konektivitas digital masyarakat.

Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Senin (22/6/2026), memperlihatkan tingkat partisipasi pendidikan dasar dan menengah pertama di wilayah ini relatif tinggi.

Angka partisipasi SMP mencapai 94,81 persen, menunjukkan sebagian besar anak usia sekolah telah mengakses pendidikan tingkat pertama. Namun, partisipasi pada jenjang SMA turun menjadi 76,46 persen, yang mengindikasikan masih adanya siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atas.

Kondisi tersebut berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pendidikan di tingkat desa. Sebanyak 93,65 persen desa telah memiliki sekolah dasar, tetapi hanya 34,92 persen desa yang memiliki sekolah menengah pertama. Keterbatasan jumlah sekolah lanjutan menyebabkan sebagian pelajar harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk melanjutkan pendidikan.

Baca juga: Sumba Tengah Masih Didominasi Sektor Pertanian

Meski demikian, akses menuju sekolah menengah pertama tergolong cukup baik. Sebanyak 84,13 persen desa dilaporkan memiliki kemudahan untuk mencapai SMP terdekat. Angka ini menunjukkan meskipun fasilitas belum merata, aksesibilitas pendidikan mulai mengalami perbaikan.

Sementara, di sektor kesehatan menjadi salah satu tantangan terbesar di Sabu Raijua. Data menunjukkan hanya 9,52 persen desa yang memiliki dokter. Angka tersebut menggambarkan masih minimnya tenaga kesehatan profesional yang tersedia secara langsung di tingkat desa.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas kesehatan sudah cukup menjangkau masyarakat. Sebanyak 93,65 persen desa memiliki fasilitas kesehatan, sementara seluruh desa atau 100 persen tercatat memiliki akses yang mudah menuju fasilitas kesehatan terdekat.

Meski akses terhadap fasilitas kesehatan relatif baik, kualitas layanan dan ketersediaan tenaga medis masih menjadi persoalan. Hal ini terlihat dari capaian imunisasi balita yang masih rendah. Hanya 47,05 persen balita yang mendapatkan imunisasi lengkap, jauh dari target ideal yang diperlukan untuk membangun kekebalan kelompok terhadap berbagai penyakit menular.

Sementara itu, pelayanan kesehatan ibu melahirkan menunjukkan hasil yang lebih positif. Sebanyak 81,81 persen perempuan usia 15 hingga 49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir memperoleh bantuan tenaga penolong persalinan. Angka ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya persalinan yang aman mulai meningkat.

Namun, perkembangan teknologi informasi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Sabu Raijua. Persentase penduduk yang menggunakan internet baru mencapai 28,78 persen.

Angka tersebut menunjukkan lebih dari dua pertiga penduduk masih belum terhubung secara aktif dengan internet. Rendahnya penetrasi internet berpotensi memengaruhi akses masyarakat terhadap informasi, pendidikan digital, layanan publik, hingga peluang ekonomi berbasis teknologi.

Kondisi ini kontras dengan kepemilikan sarana komunikasi dasar. Sebanyak 74,33 persen rumah tangga telah menggunakan telepon, menunjukkan perangkat komunikasi sudah cukup tersedia, meskipun akses internet masih terbatas.

Struktur ekonomi Sabu Raijua masih didominasi sektor pertanian dan kegiatan primer lainnya. Data menunjukkan hanya 38,98 persen penduduk yang bekerja di sektor non-pertanian.

Rendahnya proporsi pekerja non-pertanian menunjukkan diversifikasi ekonomi daerah masih terbatas. Kondisi ini membuat perekonomian masyarakat lebih rentan terhadap perubahan cuaca, musim, dan berbagai faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian.

Dari sisi kesejahteraan, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan mencapai 46,22 persen. Angka ini sering digunakan sebagai salah satu indikator peningkatan taraf hidup karena menunjukkan kemampuan rumah tangga membelanjakan pendapatan untuk kebutuhan selain konsumsi pangan.

Untuk ketersediaan infrastruktur dasar juga masih menjadi tantangan penting bagi daerah ini. Persentase rumah tangga pengguna listrik baru mencapai 72,63 persen. Artinya, masih terdapat sebagian masyarakat yang belum menikmati akses listrik secara penuh.

Sementara itu, akses terhadap air bersih juga belum merata. Hanya 54,82 persen rumah tangga yang menggunakan sumber air bersih yang layak. Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat dan produktivitas sehari-hari.

Pada sektor transportasi, hanya 31,75 persen desa yang memiliki jalan utama berpermukaan aspal. Rendahnya kualitas infrastruktur jalan berpotensi menghambat mobilitas masyarakat, distribusi barang, serta akses menuju pusat layanan pendidikan dan kesehatan.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan, kondisi sosial masyarakat Sabu Raijua tergolong kondusif. Seluruh desa atau 100 persen tercatat tidak mengalami konflik sosial.

Stabilitas sosial tersebut menjadi modal penting bagi percepatan pembangunan daerah. Lingkungan yang aman dan harmonis memungkinkan pemerintah daerah lebih fokus menjalankan program pembangunan tanpa terganggu oleh konflik horizontal.

Namun demikian, hanya 34,92 persen desa yang tercatat tidak mengalami bencana. Angka ini menunjukkan sebagian besar wilayah masih menghadapi risiko bencana alam yang dapat memengaruhi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Berbagai indikator menunjukkan, Sabu Raijua memiliki potensi untuk berkembang, terutama karena akses pendidikan dasar dan fasilitas kesehatan telah menjangkau sebagian besar desa.

Akan tetapi, tantangan berupa minimnya tenaga dokter, rendahnya cakupan imunisasi, keterbatasan akses internet, belum meratanya listrik dan air bersih, serta kondisi infrastruktur jalan masih memerlukan perhatian serius.

Percepatan pembangunan yang terintegrasi antara sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi menjadi kunci agar kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan secara bertahap keluar dari kategori daerah tertinggal.

Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat, Sabu Raijua memiliki peluang untuk mempercepat transformasi pembangunan dan memperkuat daya saingnya di kawasan timur Indonesia.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *