Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (foto dok: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Skandal Beras Premium Terbongkar

Skandal Beras Premium Terbongkar

PravadaNews – Praktik manipulasi kualitas beras kembali mencuat ke permukaan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap adanya beras kualitas rendah yang dijual dengan label premium, memicu lonjakan harga yang tidak wajar di pasaran.

Temuan ini bermula dari pemeriksaan langsung yang menunjukkan ketidaksesuaian signifikan antara standar dan realitas. Dalam standar beras premium, tingkat pecahan seharusnya berada di angka sekitar 14%. Namun, hasil inspeksi justru menemukan beras dengan tingkat pecahan mencapai 34% hingga 59%, jauh dari kategori premium.

Baca juga: RI Stop Impor Beras

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga. Secara logika pasar, beras dengan kualitas seperti itu seharusnya dijual di kisaran Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram. Namun faktanya, produk tersebut dilepas hingga Rp 17.000 per kilogram.

“Pak, yang kemarin itu, oplos, oplos, oplos. Bukan oplos, nyolong. Ini aku periksa di lab. Ini beras semuanya yang middleman tadi, ini kalau premium, itu 14% pecahannya. Yang kita tangkap itu 59%, 34%. Artinya harga Rp 8.000 dijual Rp 17.000,” ujar Amran, dikutip Jumat (24/4/2026).

Lebih jauh, Amran mengungkap potensi kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari praktik ini tidak main-main. Dengan selisih harga mencapai Rp 5.000 per kilogram, kerugian bisa menembus Rp 10 triliun jika dihitung dari konsumsi 2 juta ton beras.

“Kalau Rp 12.000 saja, aku hitung Rp 5.000. Kalau 2 juta ton Rp 10 triliun. Sehingga saya total semua yang dijual, itu Rp 100.000.000,” jelas Amran.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Upaya penindakan terus dilakukan dengan melibatkan Satgas Pangan. Sejumlah pelaku telah diamankan dan diproses hukum sebagai bagian dari langkah tegas memberantas mafia pangan yang dinilai merugikan masyarakat luas.

Amran menegaskan dirinya tidak akan mundur dalam menghadapi praktik tersebut, meskipun harus berhadapan dengan kelompok tertentu. Baginya, dampak yang ditimbulkan jauh lebih besar karena menyangkut kesejahteraan ratusan juta rakyat Indonesia.

“Pertanyaan saya, Pak, yang mana kejam? Yang mana kejam, yang memberantas 100 orang Atau 1.000 orang, atau mafia lewat, koruptor. Ini lewat, aku dor satu-satu bersama Satgas Pangan Kira-kira yang kejam ini, ini menyusahkan 256.000.000 orang. Yang mana yang kejam? Yang kejam yang menyusahkan 256.000.000 orang,” tutur Amran.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *