PravadaNews – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang belum sepenuhnya pulih di tingkat petani. Sorotan itu muncul setelah kenaikan harga di sejumlah pabrik kelapa sawit belum seluruhnya mengalir ke kebun petani.
Ketua Umum APKASINDO, Gulat Manurung mengatakan, harga TBS kelapa sawit mulai bergerak naik setelah pemerintah menggelar koordinasi dengan pelaku industri. Namun, pemulihan harga masih menyisakan selisih di rantai niaga yang menghubungkan pabrik, pengumpul, dan petani.
“Setelah rapat pertama dan kedua yang dipimpin Pak Wamen, harga TBS memang berangsur naik. Di Sumatera sudah pulih sekitar 80& dengan acuan harga CPO Rp15.200 per kilogram, sedangkan di Kalimantan sudah mencapai 70%,” kata Gulat dalam rapat koordinasi stabilisasi harga di Kementerian Pertanian, dikutip Selasa (9/6/2026).
Menurut Gulat, hambatan terbesar berada di tempat penampungan hasil sawit atau ramp, pengumpul, dan tengkulak. Jalur tersebut dinilai membuat harga yang sudah membaik di pabrik tidak diterima secara penuh oleh petani.
“Kalau kami pelajari, benar seperti yang disampaikan teman-teman petani, persoalannya ada di RAMP, pengumpul, atau tengkulak. Padahal, pabrik kelapa sawit (PKS) sudah memberikan harga yang baik,” ungkap Gulat.
Atas temuan tersebut, APKASINDO mendorong pemerintah menertibkan simpul perdagangan yang diduga menahan pemulihan harga TBS. Bagi asosiasi petani, kebijakan harga tidak cukup hanya menyasar pabrik bila selisih di tingkat pengumpul masih besar.
APKASINDO juga menyoroti hubungan harga antara pabrik kelapa sawit dan perusahaan refinery atau pengolahan minyak sawit mentah. Gulat mengatakan, pembelian minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dengan harga murah oleh refinery dapat menekan harga TBS yang diterima petani.
Dalam laporan asosiasi petani, Banten menjadi salah satu wilayah dengan tingkat pemulihan harga tertinggi setelah TBS sempat turun ke sekitar Rp2.000 per kilogram. Harga di wilayah itu kemudian bergerak ke kisaran Rp2.500 hingga Rp2.550 per kilogram, meski masih lebih rendah dari sejumlah sentra sawit di Sumatera.
Baca Juga: Anomali Harga TBS Kelapa Sawit
Dalam hal ini, pemerintah menempatkan persoalan harga TBS bukan sekadar pemulihan angka nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai pemulihan harga harus segera sampai ke petani karena sawit menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga.
“Kita harus jaga petani kita. Ini ada 15 juta petani, sesuai data kami, data GAPKI, itu ada 15 juta petani seluruh Indonesia. Tidak boleh kita rugikan mereka,” jelas Mentan Amran.
Amran menjelaskan pemerintah akan memeriksa 270 hingga 300 perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS sesuai kondisi pasar. Pemeriksaan itu dilakukan melalui aparat terkait untuk memastikan penyebab harga belum kembali mengikuti ketentuan daerah.
Pemerintah meminta harga TBS kembali mengacu pada peraturan gubernur (Pergub) di masing-masing wilayah dan mengikuti pergerakan pasar. Dengan langkah itu, pemulihan harga diharapkan tidak berhenti pada pabrik, tetapi benar-benar sampai kepada petani sawit.















