Iran Berlakukan Biaya Tol di Selat Hormuz. (Foto: Dok. Press TV)

Beranda / Mancanegara / Efek Rudal Iran Menyentuh APBN Indonesia

Efek Rudal Iran Menyentuh APBN Indonesia

PravadaNews – Eskalasi konflik antara Iran dan Israel kembali mengguncang kawasan Timur Tengah ketika serangan balasan yang dilancarkan Teheran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi global, Jum’at (12/6/2026).

Di tengah situasi tersebut perhatian tidak hanya tertuju pada dampak militer, tetapi juga pada konsekuensi ekonomi yang mulai dirasakan hingga ke negara-negara di luar kawasan konflik.

Serangan terbaru terjadi ketika upaya gencatan senjata dan komunikasi diplomatik masih berada dalam kondisi rapuh. Kondisi ini membuat pasar global merespons lebih cepat karena risiko gangguan terhadap rantai
pasok energi dinilai lebih besar dibanding eskalasi konflik sebelumnya.

Sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Dr. Rizal Darma Putra, lebih berfokus pada dinamika pertahanan dan strategi kekuatan besar, seperti strategi offshore balancing Amerika Serikat dan persaingannya dengan China.

Dalam forum perbincangan menilai serangan balasan Iran kali ini memiliki dimensi yang berbeda dibanding sejumlah konfrontasi sebelumnya.

“konflik tidak akan secara total melakukan perang konvensional pada saat jalur diplomasi belum sepenuhnya pulih sehingga meningkatkan ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan,” ujjar Rizal dikutip Jum’at (12/6)

Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Setiap ancaman terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi persepsi risiko pelaku usaha dan mendorong kenaikan harga energi meskipun pasokan fisik belum mengalami gangguan secara langsung.

Reaksi pasar menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini tidak lagi dipandang sebagai persoalan regional semata. Investor global mulai memasukkan faktor geopolitik sebagai variabel utama dalam perhitungan risiko ekonomi dan perdagangan internasional.

Dampak tersebut tidak hanya menjadi perhatian negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik. Di Indonesia, gejolak harga energi global mulai dipantau karena berpotensi memengaruhi asumsi makro yang menjadi dasar pelaksanaan APBN.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang melihat konflik geopolitik sebagai salah satu sumber risiko terhadap stabilitas ekonomi global. Pemerintah menilai lonjakan harga energi dan perlambatan ekonomi dunia dapat muncul secara bersamaan apabila ketegangan terus berlanjut.

“Risiko pertama adalah ketidakpastian harga cenderung naik, seperti harga minyak yang naik. Namun di sisi lain, dari sisi perekonomian global akan cenderung melemah. Jadi kombinasi kenaikan harga karena disrupsi geopolitik dan security itu menyebabkan tekanan harga berarti inflasi naik namun dikombinasikan dengan ketidakpastian yang menyebabkan ekonomi global melemah. Itu kombinasi yang harus kita waspadai,” kata Sri Mulyani.

Bagi Indonesia, rudal yang ditembakkan di Timur Tengah mungkin tidak pernah mencapai wilayah nasional. Namun setiap eskalasi konflik berpotensi menyentuh APBN melalui kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, peningkatan biaya subsidi energi, serta tantangan baru dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *