Ilustrasi produk-produk retail (Foto : Insignia/ PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Pemerintah Dorong Hilirisasi Produk Perkebunan BUMN

Pemerintah Dorong Hilirisasi Produk Perkebunan BUMN

PravadaNews – Pemerintah mendorong hilirisasi produk perkebunan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memperkuat nilai tambah komoditas domestik. Kebijakan itu menuntut BUMN tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi membangun produk akhir yang dekat dengan konsumen.

Direktur Bisnis PT Agrinas Palma Nusantara, Nurhidayat menilai, pengembangan pangan dan energi perlu ditarik sampai industri pengolahan. Menurutnya, komoditas tidak cukup berhenti pada produksi kebun, karena nilai ekonomi terbesar sering muncul setelah proses hilirisasi.

“Pengembangan industri berbasis pangan dan energi serta pembangunan ekosistem agribisnis perlu melibatkan berbagai pelaku dalam satu ekosistem,” ujar Nurhidayat kepada PravadaNews, dikutip Jum’at (19/6/2026)

Dalam konteks itu, hilirisasi perkebunan menjadi cara negara menahan nilai tambah agar tidak terlalu banyak keluar negeri. Komoditas seperti sawit, teh, kopi, gula, dan produk olahan lain perlu masuk rantai ritel dengan merek nasional.

Sementara itu, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo melihat hilirisasi sebagai ruang memperkuat produk turunan perkebunan BUMN. General Manager Distrik Petani Mitra dan Kepala Divisi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) PTPN IV PalmCo Abdul Muthalib menyebut produk PTPN sudah beragam.

“Alhamdulillah, PTPN punya produk-produk retail seperti teh, kopi, bahkan ada tembakau, cerutu, minyak makan, gula, kita ada semua,” kata Abdul kepada PravadaNews.

Namun, tantangan hilirisasi tidak hanya terletak pada kemampuan produksi, tetapi juga pada kekuatan merek dan persepsi konsumen. Produk lokal bisa kalah panggung ketika bahan baku nasional kembali masuk sebagai barang olahan dengan citra impor.

Abdul menilai fenomena itu dapat terjadi pada komoditas perkebunan yang diekspor, diolah ulang, lalu kembali ke pasar domestik. “Bisa jadi itu barang kita, produk kita yang labelnya ditukar, dikirim lagi ke kita seolah-olah seperti barang impor,” ujarnya.

Karena itu, kebijakan hilirisasi BUMN perlu menyentuh pengemasan, standardisasi mutu, distribusi ritel, dan promosi produk lokal secara konsisten. Tanpa strategi merek, Indonesia hanya kuat sebagai pemasok bahan baku, tetapi lemah ketika masuk pasar konsumen akhir.

Seperti diketahui, produk PTPN, hilirisasi, dan label impor menjadi isu yang saling terhubung dalam ekonomi perkebunan nasional. Ketika BUMN mampu mengolah dan memasarkan produk sendiri, nilai tambah komoditas dapat tinggal lebih besar di dalam negeri.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *