PravadaNews – Peta dagang minyak sawit dunia menempatkan Indonesia dan Malaysia sebagai dua pemasok utama crude palm oil (CPO) di pasar global.
Posisi itu membuat perubahan pasokan dari Asia Tenggara ikut memengaruhi harga dan kepastian suplai internasional.
Minyak sawit menjadi komoditas penting karena digunakan dalam produk pangan, minyak goreng, kosmetik, dan kebutuhan harian. Karena itu, negara produsen utama selalu menjadi perhatian pembeli ketika pasokan global mulai bergerak.
Pengamat Pangan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengungkapkan, kualitas CPO menjadi syarat dasar dalam perdagangan lintas negara.
“Kalau soal kualitas, di perdagangan internasional pasti ada kualifikasi, baik CPO dari Indonesia maupun negara lain tentu harus memenuhi itu,” ucap Khudori kepada PravadaNews, Senin (15/6/2026).
Menurut Khudori, minat pasar terhadap CPO Indonesia tidak hanya ditentukan oleh mutu produk. Skala produksi nasional menjadi alasan utama pasokan Indonesia terus menjadi rujukan dalam perdagangan minyak sawit dunia.
Indonesia masih memegang posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar di pasar global. Bersama Malaysia, Indonesia menguasai sekitar 75 persen sampai 80 persen pasar sawit dunia.
Besarnya porsi tersebut membuat kebutuhan minyak sawit global banyak bertumpu pada dua negara Asia Tenggara. Ketika pasokan dari wilayah lain terbatas, pembeli internasional tetap memperhitungkan produksi Indonesia dan Malaysia.
Posisi Indonesia sebagai produsen terbesar juga membuat kebijakan ekspor dalam negeri diperhatikan pasar internasional. Pembatasan pasokan dari negara produsen utama dapat membuat harga CPO dunia bergerak lebih sensitif.
Namun, Khudori menilai harga CPO tidak hanya ditentukan oleh satu negara atau satu kebijakan. Minyak sawit tetap bersaing dengan minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed di pasar minyak nabati global.
Dalam kondisi itu, pembeli global membaca harga, ketersediaan barang, dan kelancaran pengiriman secara bersamaan.
“Pasokan dari Indonesia itu akan sangat menentukan tinggi rendahnya harga sawit di pasar dunia karena Indonesia produsen terbesar,” tutur Khudori.
Diketahui, data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 46,55 juta ton pada 2025. Produksi tersebut berasal dari luas areal kelapa sawit nasional yang mencapai 16,83 juta hektare.
Produktivitas sawit Indonesia pada 2025 tercatat berbeda di setiap kelompok pengelola kebun. Perkebunan rakyat (PR) mencapai 3.268 kilogram per hektare, perkebunan besar negara (PBN) 4.469 kilogram per hektare, dan perkebunan besar swasta (PBS) 3.794 kilogram per hektare.
Sementara itu, Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mencatat produksi CPO Malaysia mencapai 20,28 juta ton pada 2025.
“Produksi CPO mencapai 20,28 juta ton, level tertinggi yang tercatat dalam satu dekade,” tulis MPOB dalam laporan industri 2025.
MPOB juga melaporkan luas tertanam sawit Malaysia mencapai 5,70 juta hektare, dengan ekspor minyak sawit 15,27 juta ton. Di luar kedua negara itu, United States Department of Agriculture (USDA) menempatkan Thailand, Kolombia, dan Nigeria sebagai produsen sawit terbesar berikutnya pada 2026/2027.















