PravadaNews – Perubahan sikap pada usia remaja kerap membuat orang tua kesulitan membedakan proses pertumbuhan dengan tanda masalah kesehatan mental.
Karena itu, perubahan emosi perlu diperhatikan ketika berlangsung lama hingga mengganggu kegiatan, hubungan sosial, atau minat anak terhadap kesehariannya.
Alodokter menjelaskan, tekanan dari keluarga, sekolah, pergaulan, dan lingkungan digital dapat memengaruhi kondisi emosional remaja. Tandanya antara lain anak semakin tertutup, mudah berubah suasana hati, hingga meninggalkan kegiatan yang sebelumnya disukai.
Namun, perubahan tersebut tidak sebaiknya langsung dihadapi dengan teguran maupun nasihat panjang. Orang tua perlu lebih dahulu memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan persoalan yang sedang dihadapinya.
“Dengarkan tanpa menghakimi, hindari memberi nasihat terlalu cepat, dan tunjukkan empati agar mereka merasa aman untuk bercerita,” tulis Alodokter dalam laman resminya, dikutip Selasa (21/7/2026).
Dengan komunikasi terbuka, remaja dapat merasa lebih aman menyampaikan tekanan yang sulit mereka hadapi sendiri. Dukungan keluarga juga dapat diberikan melalui waktu istirahat yang cukup dan kesempatan menjalani kegiatan yang disukai.
Meski demikian, bantuan profesional diperlukan apabila perubahan emosi mulai menghambat aktivitas atau disertai keinginan menyakiti diri. Penanganan sejak awal dapat mencegah masalah berkembang semakin berat.
Besarnya persoalan tersebut terlihat dalam hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap anak usia sekolah. Masalah kesehatan jiwa mulai ditemukan pada pelajar sekolah menengah pertama (SMP) dan semakin menonjol pada kelompok sekolah menengah atas (SMA).
Data CKG periode 2025–2026 menunjukkan hampir 10% dari sekitar 7 juta anak yang diperiksa terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa. Sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sedangkan 363 ribu lainnya terindikasi mengalami depresi.
Temuan itu menjadi dasar pemerintah untuk memperkuat penanganan melalui keluarga, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Sebab, kondisi mental remaja juga dipengaruhi pola pengasuhan serta lingkungan tempat mereka belajar dan berinteraksi.
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” ujar Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya, Senin (9/3/2026).
Sebagai tindak lanjut, pemerintah mengarahkan anak yang membutuhkan penanganan ke puskesmas serta memperkuat pendampingan di sekolah. Langkah ini diharapkan membantu keluarga memberikan dukungan sesuai kebutuhan remaja.















