PravadaNews – Posisi Indonesia sebagai produsen sejumlah komoditas strategis dunia mendorong pemerintah menyiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) untuk memperkuat perdagangan dan pembentukan harga nasional. Peluang tersebut turut disorot Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Diketahui, BMKS dirancang sebagai instrumen perdagangan komoditas strategis yang mencakup mineral serta komoditas seperti crude palm oil (CPO). Komoditas yang masuk dalam pembahasan antara lain nikel, timah, tembaga, bauksit, hingga emas.
Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov menilai, BMKS dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis. Selama ini, sejumlah komoditas masih menggunakan referensi harga dari pasar luar negeri.
Menurutnya, keberadaan bursa domestik dapat menjadi langkah untuk membangun mekanisme harga yang lebih kuat bagi Indonesia.
“Adanya bursa mineral tadi memang sangat bagus jika memang bisa berjalan, sehingga nanti kita bisa menjadi price maker,” tutur Abra dalam penjelasannya, dikutip Senin(24/8/2026).
Indonesia, jelas Abra, memiliki cadangan dan produksi berbagai logam serta mineral strategis dunia. Kondisi itu menjadi modal untuk membangun pasar komoditas yang memiliki daya tawar lebih besar.
“Kita kan produsen utama dan pemilik cadangan beberapa logam ataupun mineral utama dunia, kenapa kita tidak bisa menjadi price maker?” tanya Pengamat tersebut.
Selain pembentukan harga, BMKS perlu didukung ekosistem perdagangan yang kuat. Hal ini mencakup kesiapan data, tata kelola, serta hilirisasi agar komoditas memiliki nilai tambah di dalam negeri.
Abra menambahkan, pengembangan BMKS perlu berjalan bersama industrialisasi agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku. Dengan pengolahan di dalam negeri, nilai ekonomi komoditas strategis dapat meningkat.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). OJK juga menyiapkan kelembagaan untuk mendukung penyelenggaraan bursa itu.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebut, BMKS memiliki peran penting dalam memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas strategis Indonesia.
“Harapan negara sangat besar akan suksesnya bursa mineral dan komoditas strategis ini. Banyak sekali kita mendengarkan harapan banyak pihak, terutama dari Bapak Presiden, bahwa nantinya bursa ini yang akan menjawab banyak hal, terutama terkait praktik transfer pricing dan under-invoicing yang sangat merugikan bangsa Indonesia,” ujar Friderica, Rabu (19/8).
Melalui BMKS, pemerintah menargetkan terbentuknya mekanisme perdagangan komoditas strategis yang lebih transparan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas global.















