Asisten Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dirgayuza Setiawan (kanan) dalam peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ayam RI Masih Bergantung pada Genetika Impor

Ayam RI Masih Bergantung pada Genetika Impor

PravadaNews – Di balik besarnya produksi ayam broiler dalam negeri, sumber genetika yang mengawali rantai pembibitannya masih didatangkan Indonesia dari luar negeri.

Asisten Khusus Presiden RI Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dirgayuza Setiawan, menyoroti kondisi tersebut ketika membahas asal-usul ayam broiler atau ayam ras pedaging yang kini mendominasi konsumsi masyarakat Indonesia.

Menurutnya, lebih dari 90% ayam yang dikonsumsi masyarakat itu broiler dengan bentuk dan ukuran relatif konsisten. Karakter tersebut berbeda dengan ayam kampung karena broiler dikembangkan melalui sistem pembibitan dengan standar genetika tertentu.

Dirgayuza mengatakan, sumber genetika ayam broiler ini dijaga oleh perusahaan di Amerika Serikat dan Prancis. Indonesia kemudian mendatangkan grand parent stock (GPS) dari perusahaan itu sebagai bagian awal rantai pembibitan ayam broiler.

“Ada dua perusahaan, perusahaan Amerika dan perusahaan Prancis, dan kita impor grandparent stock kita dari mereka akhirnya,” kata Dirgayuza dalam peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Keseragaman ayam broiler, bagi Dirgayuza, turut berkaitan dengan standar produk yang kemudian dikenal dan dipilih konsumen. Kondisi ini membuat pembahasan genetika tidak terlepas dari perkembangan produksi pangan di dalam negeri.

“Nah, mungkin kita perlu memikirkan ke depannya genetika-genetika ayam, udang, ikan di Indonesia,” lanjut Dirgayuza.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan realisasi pemasukan GPS broiler mencapai 87.150 day old chick (DOC) pada triwulan I 2026. Sementara itu, pemasukan GPS ayam ras petelur pada periode yang sama mencapai 2.995 DOC.

Pemerintah menempatkan GPS sebagai sumber utama bibit ayam ras nasional sehingga pemasukan dan distribusinya diatur sesuai kebutuhan produksi. Sejak awal 2026, pengaturan tersebut dilakukan melalui National Stock Replacement (NSR) untuk menjaga keseimbangan pasokan.

Selain mengatur pemasukan, Kementan juga mendorong peningkatan mutu genetik dan performa bibit ayam ras untuk mendukung produktivitas peternak.

Pemerintah turut membuka peluang negara sumber GPS lain, termasuk Australia dan Inggris yang telah memiliki harmonisasi dengan Indonesia.

Penguatan pembibitan menjadi bagian penting karena GPS berada di awal rantai produksi sebelum menghasilkan ayam yang dibudidayakan peternak.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *