Ilustrasi warga menggunakan masker akibat abu vulkanik dari erupsi gunung Anak Krakatau. (Foto: Kemenkes)

Beranda / Kesehatan / Abu Anak Krakatau Ancam Kesehatan

Abu Anak Krakatau Ancam Kesehatan

PravadaNews – Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menggugurkan abu vulkanik yang terbawa angin hingga menyelimuti sejumlah wilayah di sekitarnya.

Badan Geologi mencatat sebaran abu vulkanik mencapai Banten, Jawa Barat, Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu.

Di tengah aktivitas gunung api yang kembali meningkat, ancaman abu vulkanik bukan hanya soal jarak pandang atau lapisan debu yang menempel di permukiman, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat yang terpapar.

Dalam hitungan jam hingga beberapa hari setelah terpapar, abu vulkanik dapat memicu beragam gangguan kesehatan akut, mulai dari iritasi mata dan kulit, sakit kepala, diare, hingga batuk, pilek, bersin, dan sesak napas.

Jika paparan berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang, risikonya dapat menjadi lebih serius karena berpotensi berkaitan dengan gangguan pada sejumlah organ dan sistem tubuh, termasuk masalah sirkulasi, hipertensi, penyakit jantung, gangguan hormon, hingga kesehatan mental.

Kondisi ini membuat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi persoalan yang perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat di wilayah yang terdampak.

Praktisi Kesehatan, Dokter Ngabila Salama mengatakan, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah selama paparan abu.

“Kalau terpaksa keluar rumah, anak usia di atas tiga tahun menggunakan masker KN95, KF94, atau N95,” kata Salama, dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Masker perlu diganti setiap empat hingga delapan jam atau ketika sudah basah.

Masyarakat juga dianjurkan memakai kacamata dan pakaian tertutup yang tetap nyaman digunakan.

Sesampainya di rumah, dokter Ngabila menyarankan segera berganti pakaian dan mencucinya untuk menghilangkan abu yang menempel.

“Mandi bersih juga penting agar partikel abu tidak terus menempel pada tubuh,” kata Salama.

Masyarakat dianjurkan mencukupi kebutuhan air putih sekitar tiga hingga empat liter setiap hari.

Selain itu, Salama menyarankan penggunaan tetes mata steril jika mengalami iritasi dan pelembap ketika kulit terasa kering.

Konsumsi makanan bergizi tinggi protein juga diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh selama paparan abu.

Untuk membersihkan abu, masyarakat dianjurkan menyiramnya menggunakan air dan tidak menyapu kering.

“Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu vulkanik. Penggunaan AC, air purifier, atau filter HEPA juga dapat membantu menjaga kualitas udara dalam ruangan,” ucapnya.

Konsultasikan kondisi kesehatan segera jika mengalami sakit kepala atau diare berat, iritasi, maupun sesak napas.

Kelompok berisiko tinggi sebaiknya mengutamakan layanan kesehatan daring dan pengantaran obat.

Kelompok tersebut mencakup bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta.

Kewaspadaan penting karena aktivitas Anak Krakatau masih berpotensi mengalami erupsi susulan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *