Ilustrasi Musim El Nino. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Nasional / El Nino Ubah Warna Laut Pasifik

El Nino Ubah Warna Laut Pasifik

PravadaNews – Perubahan warna perairan Samudra Pasifik khatulistiwa dari hijau menjadi biru menjadi sinyal perubahan kondisi laut yang tak bisa diabaikan.

Di balik pergeseran rona yang terekam citra satelit NASA, terdapat perubahan dinamika ekosistem laut ketika pasokan nutrisi bagi plankton di permukaan perairan terganggu oleh fenomena iklim El Niño.

Perbandingan pengamatan satelit pada 2025 dengan data terbaru memperlihatkan perairan yang sebelumnya tampak kehijauan kini lebih didominasi warna biru.

Fenomena ini berkaitan dengan perubahan suhu dan sirkulasi air laut yang memengaruhi ketersediaan nutrisi, sekaligus menunjukkan bagaimana siklus iklim alami El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dapat berdampak pada kehidupan di lautan.

Kondisi tersebut dapat melemahkan angin pasat yang biasanya mendorong air hangat ke arah barat menuju Australia.

Akibatnya, proses naiknya air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan berkurang, sehingga memengaruhi pertumbuhan fitoplankton.

Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis yang melakukan fotosintesis dan menjadi bagian penting rantai makanan laut.

Ketika jumlahnya menurun, warna perairan dapat berubah karena berkurangnya pigmen biologis yang memengaruhi tampilan laut.

Pengamatan tersebut dilakukan menggunakan satelit PACE atau Plankton, Aerosol, Cloud, Ocean Ecosystem milik NASA yang diluncurkan pada 2024.

Instrumen pengamat warna lautnya mampu mengukur berbagai panjang gelombang cahaya untuk membantu ilmuwan mempelajari kondisi ekosistem samudra.

“Beberapa orang berpikir air hanya berwarna biru. Tetapi sangat menakjubkan melihat banyaknya warna yang dimiliki samudra,” kata ilmuwan peneliti utama di Goddard Space Flight Center NASA, Matthew Kehrli dikutip Minggu (25/10/2026).

Perubahan jumlah fitoplankton juga berpotensi memengaruhi ekosistem laut secara lebih luas.

Organisme laut yang bergantung pada fitoplankton sebagai sumber makanan dapat terdampak, termasuk dalam mencari wilayah baru untuk berkembang biak.

Para ilmuwan memperkirakan fenomena El Nino yang kuat berpotensi memengaruhi kondisi iklim dalam beberapa bulan mendatang hingga 2027.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) disebut memperkirakan probabilitas 83 persen untuk terjadinya El Nino terkuat sejak pencatatan pada 1950.

Pengukuran satelit NASA juga menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik timur berada sekitar 1,7 derajat Celsius.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau ilmuwan untuk memahami perkembangan fenomena iklim tersebut.

Meski demikian, perubahan warna samudra bukan sekadar perubahan tampilan visual.

Pengamatan satelit memberikan informasi penting mengenai perubahan nutrisi, fitoplankton, dan kondisi ekosistem laut yang berkaitan dengan dinamika iklim global.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *