PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi di tengah tekanan yang masih membayangi mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG ditutup naik 16,18 poin atau 0,31 persen ke level 5.282,31, dari posisi pembukaan 5.249,07.
Meski indeks berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan, pergerakan pasar belum sepenuhnya mencerminkan penguatan yang merata.
Tercatat sebanyak 406 saham mengalami penurunan, berbanding 272 saham yang menguat dan 112 saham stagnan.
Di sisi lain, aktivitas transaksi tetap ramai dengan nilai perdagangan mencapai Rp15,29 triliun, volume 31,59 miliar lembar saham, serta frekuensi lebih dari 1,55 juta kali transaksi.
Tim Analis Phintraco Sekuritas sebelumnya mencermati penilaian Fitch Ratings yang memperkirakan melambatnya kinerja ekonomi Indonesia.
Lembaga pemeringkat internasional itu memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 berada di bawah level 5 persen.
“Akibatnya secara kumulatif ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini diproyeksi maksimal tumbuh 5,2 persen. Ini berarti di bawah target pemerintah yang sebesar 5,4 persen,” sebut Tim Analis Phintraco..
Fitch Ratings menilai dampak dukungan fiskal pemerintah akan memudar setelah belanja difokuskan pada awal semester I 2026.
Belanja konsumen juga diperkirakan akan melambat sepanjang sisa tahun ini.
“Ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung melakukan strategi trading jangka pendek,” ucap Tim Phintraco.
Sementara itu, harga minyak yang masih bertahan di level tinggi juga akan mempengaruhi sentimen pasar.
Sentimen negatif lainnya adalah potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 disertai nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Premi risiko yang meningkat dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah juga akan membebani indeks harga saham.
“Investor juga mengantisipasi potensi rebalancing indeks MSCI pada bulan mendatang. Hal ini juga menjadi sentimen negatif di pasar saham Indonesia,” ,” kata Tim Phntraco.














