Menteri Perdagangan Budi Santoso (Foto: dok Instagram @budisantosoofficial)

Beranda / Ekonomi / Mendag Optimistis Tekstil RI Kuat Bersaing

Mendag Optimistis Tekstil RI Kuat Bersaing

PravadaNews – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan industri tekstil nasional tetap memiliki ketahanan menghadapi tekanan global yang dipicu dinamika geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dunia.

“Ekosistemnya di Indonesia itu bagus, dari bahan baku sampai hilirnya ada, ya, berarti kita bisa bersaing. Kita tidak terlalu khawatir dengan produk asing,” kata Budi di Jakarta, dikutip Jumat (17/4/2026).

Baca juga : Respons Kemendag soal Minyakita Langka

Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran pelaku industri terkait potensi gangguan produksi dan masuknya produk tekstil impor akibat fluktuasi harga energi global yang turut dipicu ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Budi mengakui kenaikan harga minyak berdampak pada biaya produksi di berbagai sektor, termasuk tekstil. Namun Budi menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari tekanan global yang dirasakan hampir semua negara.

“Ya, sekarang ini kan (harga) minyak naik. Jadi ya saya pikir wajar, tapi ini kan memang krisis global. Semua terdampak perang Timur Tengah ini,” ujar Budi.

Kendati demikian, Budi menegaskan struktur industri tekstil dalam negeri sudah relatif lengkap, mulai dari ketersediaan bahan baku, industri hilir, hingga dukungan UMKM yang terlibat dalam rantai produksi.

“Ya, tapi kan kebanyakan kalau dari tekstil ini ekosistem di Indonesia sudah berjalan dengan bagus,” kata Budi.

Di sisi lain, Budi menilai permintaan domestik terhadap produk tekstil masih tinggi sehingga menjadi penyangga utama industri di tengah tekanan eksternal.

“Jadi tidak perlu khawatir ya, industrinya jalan terus, pasar di dalam negeri itu sudah besar banget,” ujarnya.

Budi juga menyoroti kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang masih menunjukkan pertumbuhan positif. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 3,55 persen secara tahunan dengan nilai ekspor mencapai 12,08 miliar dolar AS dan surplus 3,45 miliar dolar AS.

Menurut Budi, daya saing produk menjadi kunci untuk menjaga posisi industri di pasar global sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.

“Kalau kualitas bagus, punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor,” pungkas Budi.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *