PravadaNews – Di tengah upaya pemerintahan baru membangun konsolidasi politik menjalankan agenda nasional, rencana mantan Presiden Joko Widodo yang aktif melakukan kunjungan ke berbagai daerah memunculkan perdebatan di ruang publik.
Adapun bagi sebagian kalangan, aktivitas tersebut merupakan hak politik seorang mantan kepala negara. Namun di satu sisi, aksi Jokowi yang ingin berkeliling ke berbagai daerah itu juga dianggap tak mencerminkan sikap seorang negarawan.
Menyikapi hal itu,Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai tindakan itu justru akan berpotensi mengganggu stabilitas politik yang sedang dibangun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Efriza sebagai seorang sosok mantan presiden, Jokowi seharusnya dapat menunjukkan sikap kenegarawanan dengan memberikan kepercayaan penuh kepada pemerintahan yang telah mendapatkan mandat rakyat.
“Malah tindakan Jokowi ini yang dapat dikategorikan sebagai tindakan yang tak mencerminkan sikap nasionalis, patriotik, maupun penghormatan terhadap etika politik dan kenegaraan,” kata Efriza kepada PravadaNews, pada Sabtu (30/5/2026).
Efriza menyebut tindakan Jokowi berpotensi menimbulkan persepsi adanya adanya dualisme pengaruh di ruang publik. Aktivitas politik Jokowi yang masih intens pasca lengser dari jabatan juga berisiko menimbulkan dinamika yang tidak diperlukan.
Efriza menekankan, poin langkah Jokowi yang berencana berkeliling daerah itu dapat dipersepsikan sebagai bentuk intervensi tidak langsung terhadap lanskap politik nasional yang sedang berupaya mencapai keseimbangan baru setelah transisi kekuasaan.
Efriza menuturkan, rangkaian kunjungan Jokowi ke berbagai daerah disinyalir justru berpotensi menjadi salah satu faktor yang dapat disebut “merecoki” stabilitas politik nasional.
Pada prinsipnya, seorang mantan presiden semestinya mengambil posisi yang lebih menenangkan dan juga memberikan ruang bagi pemerintahan yang saat ini sedang berjalan untuk bekerja tanpa ada bayang-bayang pengaruh politik dari pendahulunya.
“Jokowi malah menunjukkan sosok politisi yang tidak layak untuk ditiru atas langkah dan kiprah politiknya,” ujar Efriza.
Di sisi lain, Efriza menganggap sikap Jokowi merupakan gaya politik elit yang dianggap tidak dapat memberikan teladan bagi masyarakat.
Efriza berpendapat bahwa figur mantan kepala negara memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan praktik politik yang santun dan menjunjung tinggi etika demokrasi.
Lebih jauh, Efriza menyayangkan agenda keliling Indonesia tersebut lantaran semestinya sikap yang seharusnya ditunjukkan Jokowi sebagai sosok mantan presiden adalah memberikan dukungan penuh kepada penerusnya.
Sebagai seorang mantan kepala negara, kata Efriza, sosok Jokowi semestinya dapat memperlihatkan kepercayaan yang besar terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto dan tidak menjadi bagian polemik politik yang terus berkembang.
“Semestinya Jokowi menunjukkan kepercayaan yang besar dan dukungannya kepada Prabowo, bukan malah menjadi sumber permasalahan politik di negeri ini,” terang Efriza.
“Jokowi justru malah menunjukkan ketidaksantunan dalam berpolitik dan bernegara,” tutup Efriza.
Diberitakan sebelumnya, Jokowi mengaku kondisinya telah sehat dan siap memenuhi undangan masyarakat di berbagai daerah.
Selain mengklaim agenda keliling Indonesia memenuhi undangan masyarakat, Jokowi mengatakan bahwa nantinya juga akan ada pertemuan khusus dengan para relawan dan pengurus PSI pada masing-masing daerah.
Selain itu, Jokowi mengungkapkan bahwa agenda keliling Indonesia itu ditujukan untuk memberikan motivasi kepada para relawan, pengurus PSI dan masyarakat.
Sementara itu, Jokowi menampik bahwa rencana keliling Indonesia itu disebut sebagai strategi untuk membangun dukungan di daerah kepada Gibran untuk menyambut kontestasi Pilpres 2029.
Jokowi pun kembali menegaskan bahwa agenda keliling Indonesia tersebut hanya rangkaian kegiatan dalam rangka untuk memenuhi undangan masyarakat.
“Ya, ini kan saya banyak undangan, undangan dari daerah-daerah untuk hadir dari masyarakat, ya saya sudah sehat dan saya akan datangi undangan-undangan yang ada,” kata Jokowi.















