PravadaNews – Komitmen kuat pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal mendapat apresiasi positif dari pasar global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Indonesia konsisten menahan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Hal itu disampaikannya dalam pertemuan strategis dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4).
“Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu. Utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten untuk menjaga defisit kita di bawah 3% dari PDB. Saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu,” kata Purbaya, dikutip Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Industri TPT Tumbuh Hingga 3,55%
Kabar menggembirakan, target defisit untuk tahun 2026 kini justru diprediksi bisa lebih baik dari perkiraan semula. Jika awalnya diproyeksikan melebar ke angka 2,9 persen akibat tekanan harga minyak, kini angka tersebut diperkirakan bisa turun ke kisaran 2,8 persen.
Meskipun masih sedikit lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen, penurunan ini dianggap sebagai pencapaian yang sangat positif di mata investor internasional.
“(Defisit) 2,9% pada waktu kita laporan awal, tetapi di LKPP nanti kira-kira akan turun ke 2,8%. Saya sebutkan hal itu ke mereka, ada indikasi turun ke 2,8%. Jadi mereka amat positif dengan hasil seperti itu,”ujar Purbaya.
Perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada triwulan IV-2025 yang menunjukkan kinerja lebih baik, juga menjadi poin plus yang dicatat oleh S&P. Hal ini menjadi alasan utama mengapa peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan pada level aman atau investment grade, yakni BBB dengan outlook stabil.
“Indikator awal sekarang sepertinya mereka juga melihat semua aktivitas ekonomi sudah membaik. Itu mungkin alasan mereka memberi konfirmasi ke saya bahwa outlook peringkat kita tetap stabil,” ujar Purbaya.
Meski secara umum penilaian sangat baik, S&P tetap memberikan catatan terkait rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang saat ini berada di atas 15 persen. Menanggapi hal tersebut, Purbaya memastikan pemerintah akan terus bekerja keras memantau dan memperbaikinya.
“Saya bilang kita akan monitor terus dan memastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan kita jaga tidak memburuk. Kita akan perbaiki ke depan sesuai dengan kondisi perbaikan pengumpulan pajak dan cukai kita,” sebut Purbaya.















