PravadaNews – Keberadaan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada awal bulan ini, yakni tepat pada 1 Juni 2026 diharapkan tidak menghambat arus distribusi kegiatan ekspor Sumber Daya Alam (SDA).
Pasalnya sejumlah pihak menilai keputusan pembentukan PT DSI yang baru berangsur satu bulan itu turut dikhawatirkan belum cukup matang dalam aspek operasional teknisnya.
Adapun pembentukan PT DSI itu didasari dengan keputusan dari Presiden Prabowo Subianto lewat Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2026 tentang tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam (SDA).
Dalam PP itu tertera mewajibkan penjualan sejumlah komoditas strategis dilakukan melalui BUMN sebagai pengekspor tunggal.
Menyikapi hal itu, Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto berharap kegiatan awal operasional dari PT DSI tidak memberikan dampak yang menghambat kegiatan ekspor SDA di dalam negeri.
Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Firnando itu menilai, PT DSI yang ditetapkan sebagai penanggungjawab kegiatan ekspor satu pintu, harus menjadi bantalan konsep yang memberikan dampak positif bagi pendapatan negara.
Sebagai informasi PT DSI dalam operasionalnya bertanggungjawab terhadap pengelolaan dan juga pengawasan atas tiga komoditas ekspor yakni, batu bara, kelapa sawit (CPO) dan ferro aloi.
“Potensi ekonomi yang besar dari ketiga komoditas tersebut perlu dikelola secara lebih terintegrasi agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi negara,” kata Firnando dalam keteranganya, dikutip Selasa (2/6/2026).
Firnando berpendapat hadirnya PT DSI harus dapat memperkuat tata kelola dan pengawasan ekspor untuk mencegah kecurangan data dari produk yang diekspor dengan jumlah yang diterima.
Firnando menegaskan, sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT DSI harus menjadi barometer utama contoh keberhasilan dari sekian banyak perusahaan negara yang telah dinyatakan justru malah rugi.
“Tidak ada ruang bagi praktik ekspor ilegal maupun aktivitas yang berada di luar mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah,” tegas Firnando.
Selain itu Firnando menambahkan, sebagai perusahaan negara yang akan menangani ekspor komoditas unggulan, PT DSI harus bersikap profesional dan transparan serta tak menimbulkan lapisan birokrasi baru yang justru menghambat arus distribusi.
“Implementasi PT DSI harus mampu menyederhanakan proses bisnis dan tak justru menimbulkan lapisan birokrasi baru yang dapat menghambat kelancaran kegiatan ekspor maupun menambah beban administratif bagi pelaku usaha,” tutup Firnando.
Sebelumnya,Danantara Indonesia bakal mengumumkan sejumlah nama yang akan mengisi jajaran pengurus dari PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada pekan depan.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengaku akan melakukan proses seleksi yang berlangsung ketat untuk membentuk tim pengelola ekspor komoditas strategis nasional.
Dalam keterangannya, sosok yang akrab disapa Dony itu mengatakan proses penjaringan sumber daya manusia (SDM) untuk entitas baru sejauh ini juga masih berjalan dan melibatkan berbagai pihak di luar Danantara.
“Sedang dilakukan proses seleksi yang ketat, dan mudah-mudahan minggu depan akan ada beberapa nama lagi yang akan diumumkan sebagai bagian dari tim,” ujar Dony.
Dony menekankan, pembentukan struktur organisasi perusahaan PT DSI itu nantinya tidak dilakukan secara eksklusif oleh Danantara, melainkan mendapat dukungan dari sejumlah kementerian.
Contohnya tim penyeleksi tersebut yakni Kemenkeu, Kemendag serta Kementerian Investasi Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
“Kami mengharapkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses penataan ekspor sumber daya alam Indonesia ke depan,” kata Dony.
Selain menyiapkan sumber daya manusia selama masa transisi enam bulan ke depan, pimpinan Danantara juga mengembangkan infrastruktur teknologi yang akan mendukung operasional DSI.
Langkah itu dilakukan lantaran menurut Dony, menjadi bagian dari upaya awal dalam membangun sistem pengelolaan yang lebih transparan dan akuntabel.
“Harapannya, sumber daya alam Indonesia dapat dikelola sehingga memberikan manfaat yang maksimal,” tutup Dony.















