Ilustrasi DPR dan Pemerintah bersatu memperkuat ekonomi nasional. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Politik / DPR-Pemerintah Perkuat Ekonomi

DPR-Pemerintah Perkuat Ekonomi

PravadaNews – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama pemerintah saat ini tengah membahas berbagai langkah strategis guna mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang masih membayangi.

Pembahasan tersebut difokuskan pada upaya menciptakan akselerasi ekonomi yang berkelanjutan melalui penguatan sektor ekspor, peningkatan kepastian hukum dan regulasi bagi pelaku usaha, serta penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi sekaligus mendorong daya saing Indonesia di tengah ketatnya persaingan pasar internasional.

Selain itu, DPR dan pemerintah juga berupaya menyusun berbagai regulasi yang dapat mempercepat implementasi kebijakan ekonomi di lapangan.

Penyederhanaan aturan, peningkatan koordinasi antarinstansi, hingga pemberian dukungan terhadap sektor-sektor produktif menjadi bagian dari agenda yang sedang dibahas. Dengan adanya kepastian kebijakan dan dukungan regulasi yang lebih adaptif, pemerintah berharap para pelaku pasar dan investor dapat memiliki kepercayaan yang lebih kuat untuk menanamkan modal serta memperluas kegiatan usaha di Indonesia.

Melalui langkah-langkah tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional diharapkan dapat bergerak lebih cepat, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, usaha ini krusial mengingat berbagai program ekonomi yang kini membutuhkan dukungan kebijakan yang terintegrasi sekaligus komunikasi yang jelas kepada masyarakat maupun pelaku usaha.

Maka dari itu, penyamaan persepsi antarlembaga menjadi penting agar kebijakan yang akan diterapkan dapat dipahami lebih baik oleh masyarakat, pelaku usaha, dan investor sehingga memperoleh respons yang positif.

“Kami melakukan koordinasi bagaimana kita mempercepat pertumbuhan ekonomi, sekaligus kemudian membicarakan tata kelola ekspor yang akan dilakukan oleh PT DSI dibawah Danantara maupun tata kelola ESDM dibawa Kementerian ESDM,” kata Dasco di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Upaya koordinasi ini, terangnya, dilakukan untuk memastikan arah kebijakan yang disusun dapat dipahami secara jelas oleh pelaku pasar dan investor. Menurut Dasco, kejelasan informasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan dunia usaha sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Selain aspek pertumbuhan ekonomi dan ekspor, DPR dan pemerintah juga membahas kebutuhan penyempurnaan regulasi untuk mempercepat implementasi berbagai program. Regulasi ini diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan kebijakan sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

“Kami juga berdiskusi bagaimana membuat aturan-aturan untuk percepatan kecepatan individu di sini agar masyarakat, khalayak umum, pelaku pasar, investor mendapst informadi yang jelas.” pungkas Dasco.

Sementara itu, pemerintah menyatakan fundamental ekonomi nasional masih kuat dan pengelolaan fiskal tetap berada pada jalur aman.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus digunakan sebagai peredam gejolak global sekaligus penggerak aktivitas ekonomi.

Purbaya menyampaikan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, dan percepatan belanja pemerintah dengan inflasi terkendali pada 3,08 persen.

“Pertumbuhan ekonomi cepat bukan karena kita mengorbankan fiskal. Tapi karena kita di bawah pimpinan Bapak Presiden bisa memastikan seluruh belanja fiskal dijalankan dengan efisien dan efektif, sehingga dengan uang yang sama pertumbuhan ekonomi kita akan lebih cepat,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBNKita Edisi Juni 2026, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6) lalu.

Dari sisi anggaran, defisit APBN hingga akhir Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, keseimbangan primer masih surplus Rp58,6 triliun sehingga posisi fiskal dinilai tetap sehat dan terkelola.

Lebih lanjut, penerimaan negara terlihat mencapai Rp1.185 triliun, sementara belanja negara terealisasi Rp1.365,4 triliun hingga akhir Mei 2026. Dengan kondisi tersebut, penguatan kepercayaan investor menjadi titik yang dipantau pasar di tengah kebutuhan menjaga disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *