Anggota Komisi IV DPR RI Slamet. (Foto: dpr.go.id)

Beranda / Politik / DPR Soroti Peran Pangan dan Penguatan Kelembagaan Bulog

DPR Soroti Peran Pangan dan Penguatan Kelembagaan Bulog

PravadaNews – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dinilai perlu dimulai dengan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pangan lokal.

Anggota Komisi IV DPR RI Slamet menegaskan bahwa konsep diversifikasi pangan harus disosialisasikan secara lebih masif, terutama kepada kalangan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa, agar pemahaman mengenai kekayaan sumber pangan lokal semakin mengakar.

Menurut Slamet, diversifikasi pangan bukan sekadar memperkenalkan pilihan pangan yang lebih beragam, melainkan juga mengajak masyarakat kembali mengenal dan memanfaatkan sumber pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari sejarah, budaya, serta kearifan bangsa Indonesia.

Slamet mengatakan, kalau asumsi diversifikasi pangan adalah memperbanyak jenis pangan selain beras, mungkin istilah ini perlu mulai disosialisasikan kembali, terutama kepada mahasiswa.

“Kita ingin kembali kepada pangan lokal seperti jagung dan singkong yang memiliki ikatan historis yang kuat dengan masyarakat kita,” ujar Slamet dikutip, Minggu (14/6/2026).

Selain isu diversifikasi pangan, Slamet juga menyoroti perubahan peran Bulog setelah bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga memiliki orientasi bisnis. Baginya, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam merumuskan sistem kelembagaan pangan ke depan.

“Sekarang yang terjadi karena Bulog bertransformasi menjadi BUMN yang pasti orientasinya adalah keuntungan. Kalau ada penugasan pemerintah, share-nya juga kecil, hitungannya 8 sampai 10 persen,” tutur Slamet.

Akibatnya, kata Slamet, kemampuan pemerintah untuk melakukan intervensi pasar ketika terjadi gejolak harga menjadi lebih terbatas.

“Sehingga begitu harga terjadi gejolak, pemerintah tidak bisa mengendalikan karena memang tidak memegang logistik secara tinggi, setara share-nya di pasarnya,” tambahnya.

Oleh karena itu, Slamet menilai penting untuk memperjelas posisi Bulog dalam sistem pangan nasional, terutama setelah terbentuknya lembaga pangan yang baru. Menurutnya, masukan dari kalangan akademisi juga banyak menyoroti isu tersebut.

“Ini saya mendapatkan tanggapan dari kampus, bagaimana posisi Bulog ini di saat memang ada badan pangan. Jadi ini penting karena memang kita ingin pemerintah tetap mampu mengendalikan harga pangan,” tutur Slamet.

Mengakhiri pernyataan, dirinya menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan pangan nasional tidak hanya sebatas mencapai swasembada, tetapi juga memastikan pangan dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan harga yang terjangkau.

“Kita ingin swasembada pangan, tapi harga terjangkau juga. Artinya, secara jumlah cukup, tetapi rakyat kita juga dapat menjangkaunya,” tutup Slamet.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *