PravadaNews – Hingga saat ini, harga minyak goreng di pasaran belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada komoditas tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia, dikutip pada Rabu (22/4/2026) pukul pukul 12:18, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan sebesar 1,73 persen, sehingga kini mencapai Rp20.600 per kilogram.
Baca juga: Minyak Naik Gorengan Ikut Galau
Kenaikan ini dinilai cukup memberatkan, mengingat minyak goreng curah merupakan pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat karena harganya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan produk kemasan.
Tidak hanya minyak goreng curah, produk minyak goreng kemasan juga mengalami tren serupa. Minyak goreng kemasan bermerk I tercatat naik sebesar 1,5 persen menjadi Rp23.750 per liter.
Sementara itu, minyak goreng kemasan bermerk II mengalami kenaikan sebesar 1,34 persen dengan harga terbaru Rp22.750 per liter.
Meski kenaikannya terlihat lebih kecil dibandingkan minyak curah, harga produk kemasan yang memang lebih tinggi tetap menjadi beban tambahan bagi konsumen.
Kenaikan harga minyak goreng ini diduga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain fluktuasi harga bahan baku di tingkat global, distribusi yang belum optimal, serta meningkatnya permintaan domestik.
Selain itu, kondisi ekonomi global yang belum stabil juga turut memberikan tekanan terhadap harga komoditas pangan, termasuk minyak goreng.
Di beberapa tempat para pedagang mengaku kesulitan menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Banyak di antara mereka terpaksa menaikkan harga jual untuk menyesuaikan dengan harga dari distributor.
Seperti yang diutarakan oleh Ucok, seorang pedagang kelontong di daerah Tanah Kusir II Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Ucok mengungkapkan, kenaikan harga minyak ini membuat dirinya bingung, kenapa harga tidak turun-turun. Menurut Ucok, jikala tren harga minyak terus begini bakal menyulitkan dirinya menjual produk minyak tersebut.
“Saya bingung, hingga saat ini harga minyak juga belum turun. Nggak enak saya ngomong ke konsumen harga naik terus,” ujar Ucok kepada PravadaNews.
Di sisi lain, konsumen berharap adanya intervensi pemerintah agar harga minyak goreng dapat kembali stabil dan terjangkau.
Pemerintah sendiri diharapkan dapat mengambil langkah konkret, seperti memperkuat pengawasan distribusi, memastikan ketersediaan stok, serta mempertimbangkan kebijakan subsidi atau operasi pasar.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi yang dapat berdampak lebih luas pada perekonomian.
Dengan kondisi yang masih belum pasti, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola konsumsi, sementara para pelaku usaha berharap adanya kepastian harga agar kegiatan ekonomi dapat berjalan dengan lebih stabil.















