PravadaNews – Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah Iran dan Oman menyepakati jalur sementara baru bagi pelayaran di salah satu jalur laut paling strategis di dunia.
Kesepakatan ini membuka rute baru bagi kapal yang melintas, dengan sebagian jalurnya masuk ke perairan teritorial Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi mengatakan, jalur tersebut memiliki lebar sekitar 11,3 kilometer dan diberlakukan untuk sementara waktu.
Iran tampaknya belum bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Negara itu mensyaratkan Amerika Serikat (AS) memenuhi komitmennya sesuai kesepakatan yang ditandatangani Juni 2026.
Melansir dari Al Jazeera, pada Rabu (26/8/2026), kesepakatan tersebut mencakup sejumlah komitmen terkait hubungan Teheran dan Washington.
Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas kapal selama beberapa pekan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik dimulai, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melewati selat tersebut.
Namun, sebagian besar aktivitas pelayaran di kawasan itu telah terhenti sejak konflik pada Februari 2026.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di Teheran.
Pertemuan tersebut membahas koridor navigasi sementara serta proyek pembersihan ranjau di Selat Hormuz, Albusaidi berharap koridor baru segera diumumkan.
Kedua negara juga merencanakan pembicaraan teknis untuk membangun pengaturan jangka panjang, termasuk mekanisme berbagi informasi serta layanan navigasi dan keamanan.
Selat Hormuz menjadi titik panas setelah Iran menutup jalur air tersebut sebagai respons terhadap perang Amerika Serikat-Israel.
Teheran kemudian mengumumkan jalur pelayaran baru melalui perairan teritorialnya dan mengatakan jalur tersebut telah dipasangi ranjau.
Gharibabadi mengatakan, Selat Hormuz belum dapat dianggap terbuka meskipun Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan baru.
Gharibabadi juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa seluruh ranjau di perairan internasional telah dibersihkan.
Selain itu, Gharibabadi mendesak negara-negara lain menolak tekanan Amerika Serikat terkait sanksi terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump mengumumkan operasi ekonomi besar-besaran terhadap Iran.
Trump juga mengancam negara yang tetap melakukan bisnis dengan Teheran.
Gharibabadi menilai, sanksi baru Washington akan gagal mencapai tujuannya dan mengatakan Iran memiliki cara sendiri untuk menghadapi tekanan ekonomi tersebut.














