PravadaNews – Jeratan pinjaman online (pinjol) dan godaan judi online (judol) menjadi tantangan serius dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.
Kemudahan akses pinjaman melalui gawai serta iming-iming keuntungan instan dari perjudian digital dapat menyeret masyarakat ke dalam persoalan keuangan yang berkepanjangan jika tidak diimbangi dengan pengelolaan uang yang bijak.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM.
KDM mengajak masyarakat Jawa Barat untuk lebih cerdas mengatur keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta tidak mudah tergoda mencari jalan pintas demi memperoleh uang.
Ajakan itu sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak terus terjebak dalam praktik pinjol dan judol.
Dedi berharap, kesadaran mengelola keuangan dapat tumbuh di tengah warga sehingga Jawa Barat tidak lagi berada di posisi teratas secara nasional dalam persoalan pinjaman online dan judi online.
“Pesan saya adalah seluruh warga Jabar, agar Jabar tidak menjadi ranking pertama pinjol di Indonesia. Tidak jadi ranking pertama judol di Indonesia,” kata KDM dikutip Sabtu (31/10/2026).
Secara khusus, KDM menyoroti banyaknya warga yang terjerat utang demi gengsi.
Orang nomor satu di Jawa Barat ini mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Majalengka dan bertemu warga yang menggelar hajatan.
“Saya nanya, siap modal kawin di mana? Dijawab, pinjem di bank Rp25 juta. Bayangin. Nyicil rumah kapan? Dijawab ‘nyak rumah isukan.’ Anaknya yang kawin, anaknya yang bahagia, besok bapaknya yang menderita,” tutur KDM.
Menurut KDM, rantai utang itu akan terus berlanjut dengan kehamilan istri yang membutuhkan biaya untuk menjaga kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.
Dalam hal ini, KDM kembali mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan yang tidak bijak dapat membuat situasi makin sulit karena jeratan utang.
“Untuk itu ibu-ibu, bapak-bapak, cerdaslah dalam melakukan keuangan. Tinggalkan tradisi kajen tekor asal kasohor,” ujar KDM.
KDM menambahkan, tugas utama negara adalah melindungi rakyat, baik saat sakit dan saat menyekolahkan anak atau pendidikan.
“Pekerjaan mereka bisa cari sendiri kok. Enggak usah diurusin ekonomi keluarganya, bisa cari duit sendiri,” ucapnya.
KDM menjelaskan, tugas negara itu cuma dua. Satu, lindungi rakyat ketika sakit, jangan sampai duit habis dari hasil usaha puluhan tahun untuk bayar rumah sakit. Dua, lindungi rakyat dari pendidikan anak-anaknya.
“Jangan sampai sekolahin anaknya harus jual sawah, jual kebun,” pungkas KDM.














