PravadaNews – Harga Minyakita yang sudah melambung dari Harga Eceran Tertinggi (HET) kini menjadi sorotan banyak pihak terutama masyarakat.
Minyak goreng rakyat itu hadir agar masyarakat kelas menengah bawah dapat membeli minyak goreng dengan harga yang terjangkau.
“Iya, perlu dipahami Minyakita sebetulnya merupakan produk untuk membantu masyarakat kelas menengah ke bawah memperoleh harga minyak yang terjangkau,” jelas Azhar kepada PravadaNews, dikutip Senin (20/7/2026).
Sejauh ini, harga Minyakita di lapangan cenderung melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut dinilai tidak lagi sejalan dengan tujuan awal penyediaan minyak goreng murah bagi kebutuhan sehari-hari.
Kelangkaan dan harga Minyakita di atas HET dirasakan Eli, penghuni Casablanca East Residence. Keterbatasan stok membuat Eli beralih menggunakan minyak goreng premium meskipun harganya lebih mahal.
“Kadang cari MinyaKita susah. Dulu pakai satu tahun lalu dengan harga Rp17 ribu, tetapi di beberapa toko dan agen tidak ada stok lagi,” ungkap Eli saat ditemui, Minggu (12/7).
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan HET Minyakita tidak berubah tetap Rp15.700 per liter. Pemerintah belum menaikkan batas harga eceran tersebut karena masih mempertimbangkan perkembangan harga.
“Sampai saat ini tidak ada kenaikan harga eceran tertinggi untuk minyak goreng. Jadi, HET minyak goreng masih Rp15.700,” terang Budi kepada wartawan di Bogor, Jumat (12/6).
Adapun, pemerintah berencana mengarahkan seluruh pasokan Minyakita ke pasar rakyat untuk mengurangi risiko kelangkaan. Distribusi produk tersebut akan melibatkan Perum Bulog dan ID Food sebagai bagian dari BUMN pangan.
Dari segi distribusi, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan menilai panjangnya rantai distribusi menjadi salah satu penyebab perbedaan harga Minyakita di tingkat konsumen. Kondisi tersebut membuat harga jual pedagang pengecer kepada konsumen melampaui HET.















