Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: dok PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Sore Ini Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar

Sore Ini Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar

PravadaNews – Pergerakan rupiah kembali berada di bawah tekanan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik, mata uang Garuda harus mengakhiri perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Tekanan tersebut membuat ruang gerak rupiah semakin terbatas. Pelaku pasar tidak hanya mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi arus modal global, tetapi juga mengantisipasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dapat kembali menjadi penentu pergerakan mata uang di pasar keuangan.

Mengacu data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 0,11 persen atau 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS. Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan terhadap rupiah di tengah sentimen eksternal yang masih membayangi pasar.

Selain faktor geopolitik, spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed turut menjadi perhatian investor.

Ekspektasi perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi tersebut membuat arah pergerakan rupiah masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global.

Pelaku pasar kini menanti bagaimana ketegangan geopolitik serta prospek kebijakan The Fed berkembang dan memengaruhi pasar keuangan dalam perdagangan berikutnya.

“Militer AS dan Iran saling serang menyebabkan konflik semakin meluas. Sehingga berimbas pada naiknya harga minyak mentah dunia,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (2/9/2026).

Sementara itu, retorikas ketua the Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole mendorong spekulasi kenaikan suku bunga.

Perangkat CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga bulan ini.

Peluang tersebut naik dari 40 persen pada minggu lalu. The Fed sendiri akan melakukan pertemuan rutin pada tanggal 15-16 September 2026.

Spekulasi the Fed akan menaikkan suku bunga bulan September ini makin kuat, setelah pernyataan Gubernur Fed Michael Barr .

“Barr mengingatkan, jika inflasi tidak segera melambat, saatnya untuk menaikkan suku bunga,” ucap Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati laporan inflasi BPS yang mencatat harga komoditas pangan melonjak tajam pada Agustus 2026.

Kenaikan harga akan menambah beban bagi daya beli masyarakat.

BPS mencatat inflasi umum pada Agustus 2026 sebesar 0,21 persen, naik dibandingkan bulan Juni yang mengalami deflasi 0,14 persen.

Sementara secara tahunan, BPS melaporkan inflasi mencapai 3,19 persen atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,88 persen.

Tekanan inflasi diimbangi oleh surplus perdagangan bulan Juli, ditopang kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia yang baru dilantik, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan PDB tahun 2027.

Menurut Destry, pertumbuha PDB Indonesia tahun depan berada di kisaran 5,2–6 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.300–17.800 per dolar AS dan inflasi tetap di sasaran 2,5 persen plus minus 1persen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *