PravadaNews – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026 dinilai sebagai langkah strategis yang menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat tata kelola program prioritas nasional.
Pergantian tersebut tidak hanya dipandang sebagai bagian dari penyegaran organisasi, tetapi juga menjadi sinyal kuat pelaksanaan program makan bergizi gratis dan berbagai agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dijalankan secara akuntabel, efektif, serta mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.
Langkah Presiden ini sekaligus mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan setiap lembaga yang mengelola anggaran dan program strategis bekerja dengan kinerja optimal serta bertanggung jawab kepada publik.
Wakil Rektor Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza menilai, pergantian Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya merupakan bentuk shock therapy.
“Terapi kejut yang sengaja dilakukan Presiden Prabowo untuk memperkuat disiplin birokrasi dan memastikan program unggulan pemerintah berjalan sesuai standar yang ditetapkan,” ujar Handi dalam keterangan tertulisnya kepada PravadaNews, Jumat (5/6/2026).
Menurut Handi, langkah tersebut sejalan dengan peringatan yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo saat peringatan Hari Lahir Pancasila. Presiden menegaskan, “kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit.”
Handi menjelaskan, BGN memegang peran sentral dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang hingga Mei 2026 dilaporkan telah menjangkau sekitar 62 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Dengan cakupan sebesar itu, program MBG menjadi salah satu program sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern sekaligus menghadapi tantangan tata kelola yang kompleks.
Handi menilai pergantian pimpinan BGN tidak dapat dipandang sebagai rotasi jabatan biasa. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan respons terhadap berbagai hasil evaluasi yang menyoroti persoalan kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP), tata kelola organisasi, pengawasan kualitas makanan, hingga audit internal terkait aspek keuangan program.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif manajemen publik, terapi kejut kerap digunakan ketika pemimpin ingin memutus pola kerja lama yang dianggap tidak lagi efektif. Melalui pergantian yang cepat dan tegas, organisasi diingatkan bahwa status quo tidak dapat dipertahankan apabila menghambat pencapaian tujuan program.
Menurut Handi, pesan utama yang ingin disampaikan Presiden adalah keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas layanan, akuntabilitas anggaran, serta kepatuhan terhadap standar operasional. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan tidak ada lembaga yang kebal terhadap evaluasi, termasuk lembaga yang menjalankan program prioritas pemerintah.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengaku, sedih mencopot Dadan Hindayana, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya dari kepemimpinan Badan Gizi Gratis (BGN).
“Saya dalam keadaan sedih karena saya terpaksa mengganti orang-orang yang saya sayangi, orang yang saya percaya, orang yang saya berikan tugas untuk negara yang sangat berat,” kata Prabowo, dalam Rapat Konsolidasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu, 3 Juni 2026.
Dia mengungkap, sangat berat saat menandatangi pencopotan Dadan Cs dari BGN. Karena, sosok Dadan pernah dianugerahi bintang kehormatan.
“Saya katakan berat bagi saya, waktu saya tanda tangan berat. Ini orang yang saya angkat, ini orang saya kasih bintang, saya kasih pangkat,” ujarnya.















