PravadaNews – Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, masih berstatus daerah tertinggal dengan sejumlah indikator pembangunan yang menunjukkan kemajuan di beberapa sektor, namun masih menyisakan tantangan besar terutama pada akses layanan kesehatan, kualitas infrastruktur dasar, dan pemanfaatan teknologi digital.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, dikutip Rabu (10/6/2026), menunjukkan tingkat partisipasi pendidikan di Sumba Tengah relatif cukup baik pada jenjang dasar dan menengah pertama.
Angka partisipasi SMP mencapai 94,94 persen, sementara partisipasi SMA berada pada level 72,9 persen. Hampir seluruh desa di wilayah tersebut telah memiliki sekolah dasar, yakni mencapai 95,38 persen. Namun, ketersediaan sekolah menengah pertama masih terbatas karena hanya 46,15 persen desa yang memiliki SMP.
Meski demikian, keterbatasan jumlah sekolah tidak sepenuhnya menghambat akses pendidikan. Sebanyak 96,92 persen desa tercatat mudah menjangkau SMP, menunjukkan masyarakat masih dapat mengakses fasilitas pendidikan meskipun harus menuju desa atau wilayah lain.
Di sektor kesehatan, tantangan pembangunan terlihat lebih nyata. Hanya 12,31 persen desa yang memiliki dokter, sementara desa yang memiliki fasilitas kesehatan baru mencapai 36,92 persen. Kondisi ini menunjukkan masih terbatasnya ketersediaan layanan kesehatan primer di tingkat desa.
Walaupun demikian, akses menuju fasilitas kesehatan relatif lebih baik. Sebanyak 95,38 persen desa dinilai mudah mencapai fasilitas kesehatan yang tersedia. Hal ini mengindikasikan persoalan utama bukan semata akses geografis, melainkan keterbatasan jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan yang tersebar di wilayah tersebut.
Kondisi kesehatan masyarakat juga tercermin dari cakupan imunisasi balita. Data menunjukkan hanya 60,94 persen balita yang mendapatkan imunisasi lengkap. Angka ini masih menunjukkan perlunya peningkatan layanan kesehatan preventif untuk menekan risiko penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Sementara itu, pelayanan kesehatan ibu melahirkan menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Sebanyak 89,22 persen perempuan usia 15 – 49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir mendapatkan bantuan tenaga penolong persalinan. Capaian tersebut menjadi indikator positif dalam upaya menekan risiko kematian ibu dan bayi.
Di bidang ekonomi, struktur ketenagakerjaan Sumba Tengah masih didominasi sektor pertanian. Hanya 27,63 persen penduduk bekerja di sektor non-pertanian. Angka ini menunjukkan transformasi ekonomi menuju sektor industri, perdagangan, dan jasa masih berjalan lambat.
Kondisi tersebut turut tercermin dari pola pengeluaran masyarakat. Porsi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan non-makanan tercatat sebesar 47,15 persen. Dalam berbagai indikator kesejahteraan, semakin tinggi proporsi pengeluaran non-makanan umumnya menunjukkan peningkatan daya beli dan kualitas hidup masyarakat.
Dari sisi transformasi digital, Sumba Tengah masih menghadapi tantangan besar. Persentase penduduk pengguna internet baru mencapai 16,84 persen. Angka tersebut tergolong rendah dibandingkan perkembangan digital nasional yang semakin pesat.
Rendahnya penggunaan internet berpotensi memengaruhi akses masyarakat terhadap informasi, pendidikan digital, layanan publik berbasis elektronik, hingga peluang ekonomi baru yang berkembang melalui platform digital.
Meski demikian, kepemilikan sarana komunikasi rumah tangga menunjukkan kondisi yang lebih baik. Sebanyak 75,23 persen rumah tangga telah menggunakan telepon, sementara 82,4 persen rumah tangga telah menikmati akses listrik.
Tantangan lain yang masih perlu mendapat perhatian adalah akses air bersih. Hanya 38,54 persen rumah tangga yang menggunakan air bersih. Angka tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat masih menghadapi keterbatasan layanan air layak konsumsi, yang berpotensi memengaruhi kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi infrastruktur, kondisi jalan utama desa menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Sebanyak 81,54 persen desa telah memiliki jalan utama dengan permukaan aspal. Infrastruktur jalan yang memadai menjadi faktor penting untuk mendukung mobilitas penduduk, distribusi barang, dan akses terhadap layanan publik.
Selain itu, kondisi sosial masyarakat relatif kondusif. Sebanyak 96,92 persen desa tidak mengalami konflik sosial. Dari aspek kebencanaan, 55,38 persen desa tercatat tidak mengalami bencana, meskipun masih terdapat hampir separuh desa yang menghadapi risiko atau kejadian bencana dalam periode pengamatan.
Secara keseluruhan, data menunjukkan Sumba Tengah telah memiliki fondasi pembangunan yang cukup baik dalam hal akses pendidikan, infrastruktur jalan, dan stabilitas sosial. Namun, rendahnya ketersediaan tenaga kesehatan, terbatasnya fasilitas kesehatan di desa, rendahnya akses air bersih, serta minimnya penetrasi internet masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian pemerintah pusat maupun daerah.
Peningkatan kualitas layanan dasar, percepatan transformasi digital, serta penguatan sektor ekonomi non-pertanian dinilai menjadi kunci untuk mempercepat pengentasan status daerah tertinggal dan mendorong pemerataan pembangunan di Sumba Tengah.















