Ilustrasi Musim Kemarau. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Daerah / Sawah Tangerang Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

Sawah Tangerang Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

PravadaNews – Kemarau panjang mulai meninggalkan jejak di hamparan sawah Kabupaten Tangerang.

Di tengah ancaman kekeringan yang kian meluas, sebanyak 311,8 hektare lahan pertanian kini berpotensi mengalami gagal panen atau puso.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang mencatat kondisi tersebut dipicu kemarau panjang yang disebut berkaitan dengan fenomena El Nino Godzilla.

Ancaman terhadap lahan pertanian pun masih terbuka, seiring cuaca kering yang belum beranjak dan wilayah terdampak yang terus meluas.

“Data per September area terdampak puso seluas 311,8 hektare. Dan diperkirakan akan bertambah sejalan dengan kondisi iklim sesuai dengan prakiraan cuaca dari BMKG,” ujar Kepala DPKP Kabupaten Tangerang Ujang Sudiartono, Kamis (17/9/2026).

Ancaman gagal panen tidak hanya terjadi di satu wilayah. Menurut Ujang, lahan pertanian yang terancam puso tersebar di 17 kecamatan dan 27 desa di Kabupaten Tangerang.

Wilayah terdampak tersebut meliputi Kecamatan Cisoka, Tigaraksa, Gunung Kaler, Kronjo, Solear, Panongan, Teluknaga, Mekar Baru, Jambe, Pakuhaji, Sindang Jaya, Rajeg, Kemiri, Sukadiri, Mauk, Sukamulya, dan Kresek.

Di tengah ancaman kekeringan yang berpotensi meluas, Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Pemerintah Provinsi Banten mulai menyiapkan langkah untuk mengurangi dampak yang dirasakan petani.

Salah satu upaya yang disiapkan yakni menyediakan benih pengganti bagi petani yang mengalami puso akibat kekeringan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani kembali menggarap lahannya setelah kondisi memungkinkan.

Untuk itu, Pemkab Tangerang berkolaborasi dengan Pemprov Banten berupaya menyiapkan benih pengganti bagi para petani yang mengalami puso.

“Ancaman terhadap lahan pertanian tersebut terjadi di tengah kondisi kekeringan yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Tangerang,” kata Ujang.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang Ahmad Taufik mencatat 25 kecamatan masuk status awas bencana kekeringan. Kondisi tersebut terjadi akibat kemarau ekstrem yang dikaitkan dengan fenomena El Nino Godzilla.

Kondisi kekeringan di Kabupaten Tangerang tercatat berlangsung cukup panjang.

Berdasarkan catatan yang ada, periode tersebut terjadi sejak 1 Juli hingga 12 September 2026.

Wilayah yang masuk status awas merupakan daerah yang berpotensi mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama lebih dari 60 hari.

Kondisi itu juga diperkirakan diikuti curah hujan yang sangat rendah, sehingga meningkatkan risiko terhadap keberlangsungan lahan pertanian.

Sebanyak 25 kecamatan yang masuk status tersebut yakni Balaraja, Cikupa, Cisauk, Curug, Gunung Kaler, Jambe, Jayanti, Kelapa Dua, Kresek dan Kronjo. Lalu Kosambi, Legok, Mauk, Mekar Baru, Pagedangan, Pakuhaji, Panongan, Pasar Kemis, Rajeg, Sepatan Timur, Solear, Sukadiri, Sukamulya, Teluknaga serta Tigaraksa.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *