Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beranda / Ekonomi / IHSG Kembali Lesu Hari Ini

IHSG Kembali Lesu Hari Ini

PravadaNews – Pergerakan IHSG kembali dibayangi suasana pasar yang lesu pada perdagangan Rabu (16/9/2026).

Minimnya katalis positif membuat investor masih cenderung menahan langkah, sehingga indeks harus mengawali perdagangan di zona merah.

Pada awal sesi pertama, IHSG berada di level 6.453,91, turun 7,24 poin atau 0,11% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Kondisi ini sejalan dengan proyeksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih akan bergerak terbatas karena belum banyak sentimen yang mampu mengangkat pasar.

“IHSG akan menguji level 6.350-6.400,” Sebut Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, IHSG melemah 1,13 persen di level 6.461.

Perdagangan saham hingga Selasa kemarin, masih diwarnai aksi jual saham dengan net sell sebesar Rp354,16 miliar.

Saham-saham yang paling banyak dijual investor asing adalah BMRI, BBRI, BBNI, CPIN dan ASII.

Tim Phintraco Sekuritas melihat situasi pasar yang cenderung membuat investor ‘wait and see’. Penyebabnya, harga minyak mentah yang terus meninggi dan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

Kedua hal tersebut menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG.

Sementara itu, rupiah juga ditutup melemah pada Selasa kemarin.

Rupiah turun 0,14 persen di pasar spot pada level Rp17.694 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia di juga melemah di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

Tim Analis Phintraco Sekuritas juga mencermati rilis lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings.

Dalam rilisnya, lembaga itu memperingatkan soal peningkatan risiko kredit dan pendapatan pada bank BUMN di Indonesia.

Meningkatnya risiko kredit disebabkan penyaluran pinjaman yang diarahkan pemerintah bertumbuh dua kali lebih cepat dari rata-rata industri.

Hal itu berpotensi menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) serta menekan profitabilitas sektor perbankan negara.

Di sisi lain, investor menantikan hasil pertemuan bank sentral AS, the Fed yang kemungkinan akan menaikkan suku bunga.

Kenaikannya diprakirakan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75-4,0 persen .

Selain itu dari AS juga akan dirilis data penjualan eceran bulan Agustus 2026.

Penjualan eceran di AS diprakirakan meningkat 0,9 persen setelah turun 0,6 persen secara bulanan.

Untuk harga minyak pada Selasa kemarin, harga minyak WTI ditutup menguat 4,4 persen pada level USD105 per barel.

Harga minyak Brent di atas level USD108 per barel.

Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak karena penutupan jalur pipa ekspor utamanya. Sehingga harga minyak semakin melambung.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *