Ilustrasi gedung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: AI)

Beranda / Ekonomi / IHSG Menguat di Akhir Pekan

IHSG Menguat di Akhir Pekan

PravadaNews – Laju pasar modal Indonesia kembali menunjukkan geliat positif di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergerak dinamis.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan pada Jumat (7/8/2026), dengan penguatan signifikan setelah sepanjang sesi berada di zona hijau.

Kenaikan tersebut mencerminkan adanya dorongan optimisme investor terhadap prospek pasar, meski pelaku pasar tetap mencermati berbagai sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan saham ke depan.

Pada penutupan perdagangan sesi II, IHSG bertengger di level 6.409,65 atau menguat 65,94 poin setara 1,04 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan positif tersebut sekaligus membawa indeks mencapai posisi tertinggi sepanjang perdagangan hari itu, setelah dibuka pada level 6.352,38.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan bertahan di area positif.

Aktivitas transaksi menunjukkan cukup banyak saham yang mengalami penguatan, dengan 355 saham tercatat naik, sementara 235 saham melemah dan 203 saham bergerak stagnan.

Kondisi tersebut menggambarkan adanya respons positif investor terhadap sejumlah sentimen pasar, meski seleksi terhadap saham-saham tertentu masih terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Nilai transaksi tercatat cukup tinggi mencapai Rp16,24 triliun. Sementara volume perdagangan mencapai 37,72 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,2 juta kali transaksi.

Tim Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa saham Asia yang bergerak beragam. Pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi arah perdagangan.

“Bursa regional Asia cenderung bergerak beragam jelang akhir pekan ini yang terbebani kondisi terakhir di Timur Tengah dan penantian rilis data pekerja Amerika Serikat (AS). Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi,” sebut Tim Pilarmas Investindo Sekuritas.

Menurut Pilarmas, kenaikan harga minyak dipicu laporan serangan Iran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memunculkan keraguan terhadap kepastian pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Data tersebut menjadi indikator arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Pasar memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga pada September mendatang. Ekspektasi tersebut masih menjadi perhatian utama investor global.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 145,3 miliar dolar AS. Posisi tersebut dinilai tetap mampu menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas sistem keuangan nasional.

Investor juga menanti pengumuman gubernur definitif Bank Indonesia yang dijadwalkan pemerintah pekan ini. Penetapan sosok tersebut dinilai menjadi katalis penting bagi pergerakan pasar keuangan domestik.

Penunjukan figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan dinilai mampu menjaga independensi BI berpotensi meningkatkan kepercayaan pasar. Sementara ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong sikap wait and see dari pelaku pasar.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *