Ini 5 Kebiasaan yang Bikin Mikroplastik Masuk ke Tubuh. (Foto: Dok. Alodokter)

Beranda / Kesehatan / Ini 5 Kebiasaan yang Bikin Mikroplastik Masuk ke Tubuh

Ini 5 Kebiasaan yang Bikin Mikroplastik Masuk ke Tubuh

PravadaNews – Di balik peringatan Hari Bebas Kantong Plastik Internasional setiap 3 Juli, ada persoalan yang lebih dekat dari sekadar sampah belanja. Plastik sekali pakai dapat terurai menjadi mikroplastik, lalu masuk ke tubuh melalui kebiasaan harian.

Mikroplastik dikenal sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Ukurannya yang kecil membuat partikel ini bisa tertelan, terhirup, atau menempel lewat kontak kulit.

Halodoc menjelaskan, mikroplastik bisa berasal dari pecahan plastik besar maupun partikel kecil yang sengaja dibuat.

“Sumber mikro plastik sangat beragam, mulai dari ban kendaraan yang terkikis di jalan raya, pencucian pakaian berbahan sintetis seperti polyester, hingga penggunaan botol minum plastik sekali pakai,” tulis Halodoc, dikutip Jumat (3/7/2026).

Paparan paling dekat muncul dari air minum kemasan. Botol plastik yang terkena panas atau gesekan dapat melepas partikel kecil ke lingkungan.

Jalur berikutnya muncul saat makanan panas ditempatkan dalam wadah plastik. Suhu tinggi dapat mempercepat perpindahan partikel plastik dan bahan kimia ke makanan.

Kantong plastik sekali pakai juga menyisakan risiko setelah selesai dipakai. Saat rapuh dan terurai, kantong tersebut dapat menjadi serpihan kecil yang mencemari tanah, air, dan udara.

Lebih lanjut, pakaian sintetis seperti polyester ikut menjadi sumber paparan yang jarang disadari. Saat dicuci, serat halusnya dapat lepas lalu terbawa air limbah ke saluran pembuangan.

Debu rumah menjadi jalur lain yang dekat dengan saluran pernapasan. Partikel dari tekstil, kemasan, dan udara luar dapat menumpuk lalu terhirup saat ruangan jarang dibersihkan.

Diketahui, paparan mikroplastik memicu peradangan, gangguan pernapasan, serta penurunan respons imun. Partikel plastik juga dapat membawa bisphenol A (BPA), phthalates, serta logam berat

Gambaran paparan itu terlihat dalam riset Nature Health 2026 tentang mikroplastik dan nanoplastik pada jaringan otak manusia. Peneliti menganalisis 156 sampel otak berpenyakit dari 113 pasien tumor otak.

Penelitian tersebut juga memeriksa 35 sampel otak sehat dari lima donor postmortem. Hasilnya, partikel plastik terdeteksi pada 99,4% sampel otak berpenyakit dan 100% sampel otak sehat.

Namun, temuan itu belum membuktikan mikroplastik sebagai penyebab tumor atau penyakit tertentu. Peneliti menyebut riset lanjutan tetap dibutuhkan untuk memahami dampaknya terhadap kesehatan manusia.

Dalam hal ini, Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) KLH/BPLH Laksmi Widyajayanti mendorong pembatasan plastik sekali pakai dari sumbernya.

“Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang semakin penuh,” ujar Laksmi, Sabtu (13/6).

KLH/BPLH mencatat lebih dari 300 kabupaten dan kota memiliki regulasi pembatasan plastik sekali pakai hingga pertengahan 2026. Jumlah itu naik dari 216 daerah pada 2025, sehingga pengurangan plastik mulai bergerak dari imbauan menuju kebijakan daerah.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *