PravadaNews – Garam yang dipanen dari pesisir Indonesia belum seluruhnya dapat digunakan sebagai bahan baku pabrik. Diketahui, industri membutuhkan pasokan berkadar tinggi dengan mutu yang stabil sepanjang tahun.
Kesenjangan tersebut hendak dipersempit melalui Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kawasan itu ditargetkan menghasilkan garam dengan kandungan natrium klorida (NaCl) hingga 97%.
“Kalau kawasan ini berhasil, bukan hanya Rote yang maju. Indonesia akan semakin mandiri memenuhi kebutuhan garamnya, impor bisa terus ditekan, ekonomi daerah tumbuh, dan masyarakat pesisir memperoleh manfaat yang nyata,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan dalam keterangan yang diterima, Kamis (30/7/2026).
Pemerintah menargetkan produksi perdana K-SIGN berlangsung pada September 2026. Pembangunan tahap kedua kini mencakup lahan seluas 751,32 hektare.
Jika digabungkan dengan tahap pertama, kawasan yang telah dikembangkan mencapai 1.368,25 hektare. Luas ini masih dapat bertambah hingga 10.764 hektare melalui kerja sama dengan sektor swasta.
Adapun K-SIGN dirancang menghasilkan sekitar 200 ton garam per hektare setiap tahun. Target tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sekaligus memasok industri yang selama ini bergantung pada garam impor.
Selain tambak modern, pemerintah telah membangun Gudang Garam Nasional berkapasitas 10.000 ton. Fasilitas itu diperlukan untuk menyimpan hasil produksi sekaligus menjaga kualitas sebelum garam disalurkan kepada pembeli.
Namun, besarnya kawasan belum langsung menjamin berkurangnya impor. Garam dari Rote harus memiliki mutu yang seragam dan tersedia sesuai jadwal produksi pabrik.
Sebelumnya, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyampaikan, impor garam industri mencapai sekitar 936.000 ton sepanjang Januari–Mei 2026. Jumlah ini meningkat 13,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Neraca ini penting untuk melihat kebutuhan dan produksi dalam negeri sehingga impor bisa direncanakan dengan baik,” tutur Nailul dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (1/8).
Sebagai informasi, kebutuhan industri klor-alkali atau chlor-alkali plant (CAP) pada 2026 mencapai sekitar 1,18 juta ton. Kebutuhan tersebut berbeda dengan garam pangan dan farmasi karena pabrik mensyaratkan kadar serta pasokan yang lebih terjaga.
Karena itu, kemampuan K-SIGN menekan impor akan ditentukan oleh hasil produksi setelah kawasan mulai beroperasi. Garam Rote harus memenuhi standar pabrik secara konsisten agar industri bersedia mengganti bahan baku impor dengan pasokan dalam negeri.















