Menteri Perdagangan, Budi Santoso. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Produk UMKM Tebus Pasar Internasional

Produk UMKM Tebus Pasar Internasional

PravadaNews – Pemerintah mendorong produk desa menembus pasar internasional lewat penguatan agregator Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Skema ini disiapkan untuk mengatasi kendala yang menghambat produk lokal masuk pasar luar negeri.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (Busan) mengatakan, peluang ekspor Indonesia masih terbuka lebar, meski perdagangan global menghadapi tekanan. Apalagi, nilai tukar rupiah terhadap dolar belum membaik sepenuhnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat ekspor Januari–April 2026 naik 5,4 persen dan surplus dagang berlanjut selama 72 bulan berturut-turut.

“Agregator itu bagaimana bisa jualan dengan produk-produk dari UMKM. Tinggal kumpulin produk-produk UMKM, dibina, kemudian distandarisasi, kemudian kita mampu menjual,” kata Budi dalam acara Campuspreneur 2026 di IPB University, Bogor, dikutip Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Siapa yang Menanggung Selisih Harga Pertamax?

Menurut Busan, pelaku ekspor tidak selalu harus memiliki pabrik sendiri untuk masuk ke pasar luar negeri. Agregator dapat menyatukan produsen kecil agar kapasitas produksi, mutu barang, dan kesinambungan pasokan lebih mudah dipenuhi.

Diketahui, Kemendag telah mengumpulkan sekitar 300 agregator untuk memperkuat rantai pemasaran produk UMKM ke pasar internasional. Kehadiran penghubung pasar dibutuhkan karena banyak pelaku kecil memiliki produk, tetapi belum memiliki akses langsung ke pembeli mancanegara.

Dalam program ‘UMKM Bisa Ekspor’, pelaku binaan dapat mempresentasikan produk kepada perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri secara daring. Setelah itu, atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) membantu mencarikan pembeli sesuai pasar tujuan.

Fasilitas daring tersebut diarahkan untuk memangkas biaya penjajakan ekspor karena pertemuan awal tidak selalu membutuhkan perjalanan luar negeri. Mendag juga meminta pelaku usaha melapor sebelum mengikuti pameran internasional agar perwakilan perdagangan dapat menyiapkan calon pembeli lebih dulu.

“Kemarin kami juga sudah melakukan pelepasan ekspor di Jembrana. Koperasi desa ekspor ke Hungaria dan Prancis untuk produk cokelat, kemudian dari Purwokerto ekspor gula semut ke Hungaria,” tutur Mendag Budi.

Di sisi lain, Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo menekankan, akses pasar dan keberlanjutan penjualan harus menjadi pekerjaan utama pemerintah dalam penguatan UMKM.

“Ending dari UMKM itu sederhana, bagaimana produknya bisa terjual dan memberikan keuntungan. Ini yang harus menjadi perhatian utama pemerintah,” ujar Yoyok dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri UMKM di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Senin (15/6).

Dorongan kemitraan antara UMKM, sektor industri, dan jaringan distribusi dinilai penting untuk memperluas penyerapan produk lokal. Koperasi desa, harap Yoyok, dapat menjadi ruang konsolidasi produk sebelum UMKM masuk ke pasar yang lebih luas.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *