PravadaNews – Rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini.
Setelah sebelumnya bergerak di tengah dinamika pasar keuangan global, mata uang Garuda mampu mempertahankan momentum positif hingga akhir perdagangan.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,47 persen atau bertambah 84 poin ke level Rp17.882 per dolar AS.
Penguatan tersebut mencerminkan pergerakan positif rupiah di tengah perhatian pelaku pasar terhadap berbagai perkembangan ekonomi dan keuangan global.
Kinerja rupiah menjadi salah satu indikator yang terus dicermati karena pergerakan nilai tukar turut berkaitan dengan kondisi pasar keuangan, aktivitas perdagangan, serta sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia.
Penguatan pada perdagangan kali ini menjadi perkembangan penting setelah rupiah sebelumnya menghadapi tekanan dari dinamika eksternal yang turut memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan.
Pergerakan rupiah hingga penutupan perdagangan menunjukkan bahwa pasar masih merespons berbagai sentimen yang berkembang.
Pelaku pasar akan kembali mencermati arah pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan berikutnya, termasuk perkembangan dolar AS dan kondisi pasar keuangan global.
“Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik terkait Selat Hormuz. The Wall Street Journal melaporkan bahwa AS akan mengirimkan tambahan 10.000 tentara ke Timur Tengah,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (2/10/2026).
Penambahan tentara itu disebut sebagai upaya AS untuk kembali menyerang Iran di bulan November.
Pelaku pasar tetap mengkhawatirkan perang dapat memicu inflasi yang lebih tinggi.
Sementara itu sejumlah pejabat the Fed menyampaikan sikap beragam terkait suku bunga.
Wakil Ketua the Fed, Philip Jefferson menyatakan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga.
“Di sisi lain, Presiden the Fed Minneapolis, Neel Kashkari, tetap bersikap hawkish (ketat). Ia masih menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ujar Ibrahim.
Pasar kini sedang menantikan laporan penggajian tenaga kerja nonpertanian (NFP) bulan September yang akan dirilis pada hari Jumat.
“Para ekonom memperkirakan pemberi kerja di AS telah menambah hampir 90.000 lapangan kerja turun dari 162.000 pada bulan Agustus,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap di angka 4,1 persen.
Namun, data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga lagi bulan ini.
“Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen. Persentasenya turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati langkah Bank Indonesia memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter.
Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter.
Kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market).
Operasi moneter ini diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, serta mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.















