PravadaNews – Saat manufaktur Vietnam masih bergerak ekspansif, Indonesia kembali diuji dengan pertanyaan tentang daya tarik pabrik dan kepastian industri.
Kabar pabrik komponen otomotif di Jawa Timur yang disebut akan pindah ke Vietnam sempat mengusik kegelisahan industri. Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membantah relokasi itu dan menyatakan fasilitas produksi tetap berjalan di Indonesia.
Klarifikasi tersebut menutup kabar relokasi sebagai keputusan bisnis yang terjadi. Namun, munculnya Vietnam dalam kabar itu menunjukkan pabrik membaca daya saing Indonesia secara regional.
Tekanan manufaktur terlihat dari data S&P Global pada akhir semester pertama 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei.
Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam zona kontraksi. Pelemahan itu terjadi saat pesanan baru, produksi, dan pembelian bahan baku ikut menurun.
Baca juga: Ancaman PHK Hantui Sektor Industri
Pada saat yang sama, Vietnam menunjukkan arah berbeda dalam peta manufaktur Asia Tenggara. PMI Manufaktur Vietnam pada Juni 2026 berada di level 51,8 dan tetap berada di zona ekspansi.
Vietnam memang turun dari posisi 52,8 pada Mei, tapi aktivitas pabriknya masih tumbuh. Perbedaan itu membuat Indonesia kembali berhadapan dengan pertanyaan lama tentang daya tarik industri.
Senada dengan itu, Managing Director Paramadina Public Policy Institute Muhammad Rosyid Jazuli menilai, pabrik menjadi fondasi penting bagi negara yang ingin naik kelas. Menurutnya, negara Asia yang berhasil maju memulai pembangunan dari manufaktur padat karya.
“Sektor apa yang paling mampu menyerap tenaga kerja? Jawabannya adalah pabrik. Pada masa itu, mereka tidak bergantung pada capital inflow, pasar modal, atau pasar uang. Mereka bergantung pada pabrik,” kata Rosyid, dikutip Sabtu (4/7/2026).
Rosyid menjelaskan, kekuatan manufaktur menjadi pijakan sebelum negara bergerak ke investasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Pola itu membuat pabrik tidak hanya penting bagi produksi, tapi juga bagi serapan kerja dan nilai tambah.
Bagi Indonesia, keputusan investor membuka pabrik tidak berhenti pada biaya hari ini. Pelaku usaha juga membaca prospek daya beli, stabilitas ekonomi, hingga arah kebijakan beberapa tahun ke depan.
“Pertimbangannya sederhana. Ketika orang ingin membuka pabrik atau berinvestasi di Indonesia, pertanyaannya adalah: apakah mereka yakin masyarakat Indonesia akan lebih kaya dalam lima atau sepuluh tahun ke depan?” ujar Rosyid.
Karena itu, fokus kebijakan industri perlu kembali diarahkan ke sektor riil. Tanpa kepastian pasar, regulasi, serta arah manufaktur, Vietnam akan tetap menjadi pembanding bagi lemahnya sinyal industri RI.















