Menteri Perdagangan, Budi Santoso di Kementerian Perdagangan, Jakarta. (Foto: Dok. Nur Aida/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Imbal Dagang RI-Filipina Perkuat Ekspor Nasional?

Imbal Dagang RI-Filipina Perkuat Ekspor Nasional?

PravadaNews – Transaksi dagang ekspor-impor ikut tertekan imbas pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebab, transaksi ekspor-impor menggunakan mata uang asal Paman Saman tersebut. Saat ini, nilai tukar rupiah diangka Rp17.956,55 per dolar AS.

Kini, pemerintah mencari instrumen untuk memperkuat ekspor nasional di tengah tekanan dolar AS, salah satunya dengan imbal dagang dengan RI-Filipina.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) mengatakan, kerja sama imbal dagang antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina memiliki potensi 350 juta dolar AS atau sekitar Rp6,29 triliun.

Mendag Busan mengungkapkan, kegiatan ekspor Indonesia pada Januari-April 2026 tumbuh 5,48% dengan nilai 92,15 miliar dolar AS, surplus 5,64 miliar dolar AS.

“Ini salah satu solusi sebenarnya bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita dan bagaimana dengan barter ini kita tidak tergantung pada mata uang asing. Saya pikir itu tidak membebani ekspor dan impor, tidak membebani eksportir dan importir,” kata Budi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, dikutip Rabu (10/6/2026).

Baca Juga: Lahan Sawit Swasta Terbesar Dibandingkan Negara

Dalam kerja sama itu, Indonesia akan mengimpor serat abaka dari Filipina untuk bahan baku industri tekstil. Kemudian, diolah perusahaan anggota Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) menjadi produk tekstil jadi untuk pasar Filipina.

Kesepakatan abaka melibatkan Asian Pyrochem Technologies dari Filipina, PT Trade Barter Indonesia (TBI), dan AGTI. Nilai pertukaran serat abaka dengan produk tekstil jadi mencapai 50 juta dolar AS per tahun.

Selanjutnya, Indonesia akan mengimpor bijih besi atau iron ore dari Filipina untuk kebutuhan industri baja. Bahan baku itu diproses oleh kelompok usaha baja nasional sebelum produk akhirnya diarahkan kembali ke pasar Filipina.

Kerja sama bijih besi dan baja melibatkan Asian Pyrochem Technologies, PT TBI, dan PT Krakatau Global Trading. Nilai pertukarannya mencapai 300 juta dolar AS per tahun untuk mendukung pasokan bahan baku dan ekspor produk baja.

Budi menjelaskan, barter tidak selalu harus menghubungkan komoditas yang berada dalam satu rantai produksi. Indonesia sebelumnya pernah menjalankan pola serupa dengan Mesir melalui impor kurma dan ekspor kopi.

Dari sisi teknis, PT Trade Barter Indonesia (TBI) berperan sebagai agen yang mempertemukan kebutuhan eksportir dan importir. Kehadiran agen dibutuhkan agar barang yang tersedia di satu negara dapat dipasangkan dengan permintaan dari negara mitra.

Perwakilan PT TBI, Hendra Hartono, menegaskan barter dapat membantu pelaku usaha ketika transaksi menghadapi kendala kurs dan ketersediaan dolar.

“Justru barter itu sebagai solusi, satu, kalau ada masalah currency dan fluktuasi. Kedua, ada beberapa negara susah nyari dolar,” ujar Hendra.

Nilai barang, lanjut Hendra, tetap dihitung berdasarkan harga yang disepakati meski transaksi tidak dibayar tunai menggunakan dolar AS. Dengan cara itu, pelaku usaha tetap memiliki acuan valuasi, standar pertukaran, dan ruang keuntungan dalam perdagangan.

Diketahui dari data perdagangan bilateral, Filipina masih menjadi salah satu pasar penting bagi Indonesia di Asia Tenggara. Total perdagangan kedua negara mencapai 4,16 miliar dolar AS pada Januari-April 2026, surplus Indonesia sebesar 2,93 miliar dolar AS.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *