PravadaNews – Massa aksi yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan sejumlah kampus se-Jabodetabek mengungkapkan kekecewaannya atas tindakan kepolisian yang menutup total akses jalan raya Thamrin menuju bunderan Hotel Indonesia (HI).
Salah satu perwakilan BEM UI mengatakan, padahal pihaknya sudah koperatif memberikan informasi kepada pihak kepolisian untuk menggelar aksi di bunderan HI pada hari ini Jumat (12/6/2026).
Atas dasar itu, BEM UI menuding aparat kepolisian sengaja untuk menghalangi massa aksi yang hendak menggelar demonstrasi dan diduga melanggar prinsip kebebasan berekspresi.
Sementara, imbas penghadangan itu, massa mahasiswa tertahan di jalan Thamrin dan tidak bisa untuk melanjutkan perjalananya menuju bunderan HI.
Selain di jalan Thamrin, kepolisian diduga juga turut melakukan aksi penghadangan di sejumlah titik yang mengakibatkan massa mahasiswa terpecah dan tidak dapat mencapai lokasi aksi.
“Padahal kami telah merencanakan aksi ini dan juga sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada kepolisian bahwa kami akan mengadakan aksi di Bundaran HI. Namun pada pukul 11.55 WIB, tepat saat berada di Dukuh Atas, kami ditahan oleh polisi,” ujar perwakilan BEM UI.
Di sisi lain, Mahasiswa menyoroti langkah kepolisian yang diduga melakukan pembatasan akses para massa aksi saat menunaikan ibadah solat Jumat.
Aparat diduga tidak memberi ruang bagi massa untuk bergerak menuju lokasi ibadah maupun titik aksi.
“Saat itu kami hendak melaksanakan ibadah salat Jumat yang haknya telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, aparat kepolisian tidak mengindahkan hal tersebut. Ketika ditanya alasannya, mereka tidak memberikan jawaban dan justru mengarahkan kami untuk salat di tempat lain,” katanya.
Berdasarkan keterangan dari BEM UI aksi penghadangan kepolisan itu meliputi sejumlah lokasi yakni
Dukuh Atas, Semanggi, Gelora Bung Karno (GBK), Velodrome, hingga sekitar Kompleks Parlemen Senayan.
Salah satu koordinator lapangan mengatakan dirinya bersama lima koordinator lain terpisah dari rombongan utama. Sejumlah peserta aksi, kata dia, tertahan di berbagai titik karena akses pergerakan ditutup aparat.
“Saya bersama lima rekan koordinator lapangan yang berada di depan terpisah dari rombongan. Ada teman-teman yang tertahan di Velodrome, ada yang mengarah ke Kemendiktisaintek, dan ada dua koordinator lapangan dari fakultas di UI yang terjebak di depan DPR. Di sana kami tidak bisa maju maupun mundur,” ungkapnya.
Ia mengatakan, untuk mensiasati kondisi itu, para pemimpin organ kemudian memutuskan melakukan konsolidasi ulang dengan berjalan kaki menuju kawasan Tugu Tani.
“Akhirnya kami mengambil langkah preventif. Bersama massa yang masih terhimpun, kami melakukan long march menuju Tugu Tani untuk bergabung dengan teman-teman yang terpisah di titik lain. Saat ini teman-teman yang sebelumnya tertahan di depan DPR sudah bergabung di Tugu Tani, sementara teman-teman yang masih berada di Velodrome sedang bergerak menuju lokasi yang sama,” katanya.
Selain itu, Ratusan pengguna jalan memprotes keras langkah pihak kepolisian yang menutup jalan raya Thamrin Jakarta Pusat menuju bunderan Hotel Indonesia (HI) pada Jumat (12/6/2026).
Adapun keputusan menurut jalan itu diambil kepolisian mencegah massa aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) beserta berbagai kampus se-jabodetabek melakukan unjuk rasa di kawasan bunderan HI.
BEM UI bersama sejumlah massa berbagai kampus se-jabodetabek sebelumnya telah memilih lokasi bunderan HI menjadi titik untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap pemerintah.
Pantauan PravadaNews di lokasi, nampak ratusan pengguna jalan terpaksa tertahan lantaran akses jalan Thamrin menuju bunderan HI ditutup barisan berier kepolisian.
Salah satu pengendara ojek online menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap kepolisian yang telah menyebabkan perjalanan dan pekerjaan terganggu akibat dari penutupan jalan.
“Saya ini lagi bekerja, anda juga bekerja. Tolong buka akses jalan kami. Kalian kami gaji jangan bikin susah kamu,” ungkap pengendara ojek online.
Pengendara ojek online itupun sesekali menepuk-nepuk wajah seraya menahan emosi akibat tidak bisa melewati akses jalan yang ditutup kepolisian tersebut.
“Woi saya rela mati buat keluarga saya. Saya mau anter barang ini kehadang sama kalian, kalau saya dipecat kalian mau tanggung jawab,” kelakar laki-laki paruh baya tersebut.















