Launching MBG 3B. (Foto: Dok. Puskesmas Sungai Kunyit)

Beranda / Nasional / MBG Perlu Didukung Intervensi Kehamilan

MBG Perlu Didukung Intervensi Kehamilan

PravadaNews – Kondisi gizi ibu sebelum dan selama masa kehamilan memiliki peran yang sangat menentukan terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak masih berada di dalam kandungan.

Para ahli menegaskan, risiko berat badan lahir rendah (BBLR) sebenarnya mulai terbentuk sejak masa kehamilan akibat kurangnya asupan gizi ibu, jauh sebelum gejala stunting terlihat ketika anak memasuki usia balita.

Karena itu, upaya pencegahan stunting tidak dapat hanya difokuskan pada pemenuhan gizi anak setelah lahir, tetapi harus dimulai sejak calon ibu mempersiapkan kehamilan hingga menjalani masa kehamilan secara sehat.

Gizi ibu yang baik diyakini mampu mendukung pertumbuhan janin secara optimal, menekan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, sekaligus menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik di masa depan.

Penerima Grand Riset Sawit Ratu Ayu Dewi Sartika mengaitkan BBLR dengan peningkatan risiko stunting pada anak. Pencegahan sejak kehamilan dinilai lebih tepat daripada menunggu gangguan pertumbuhan ditemukan setelah bayi lahir.

Guru Besar Universitas Indonesia ini menempatkan BBLR sebagai awal yang perlu ditekan dalam kebijakan penanganan stunting harus mendapat tambahan kebutuhan vitamin A.

“Kalau ibu hamil, dia harus mendapat tambahan kebutuhan vitamin A. Kalau kecukupannya rendah, kondisi itu ikut memengaruhi berat bayi,” terang Ratu Ayu saat ditemui di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Adapun, penelitian tersebut turut menganalisis anemia dan rendahnya konsumsi vitamin A sebagai faktor yang memengaruhi berat kelahiran bayi. Kedua kondisi dikendalikan untuk membedakan pengaruh intervensi dari keadaan kesehatan dan kecukupan gizi peserta selama kehamilan.

Di sisi lain, kebutuhan vitamin A ibu hamil berbeda dari perempuan tidak hamil karena pertumbuhan janin membutuhkan tambahan asupan. Rendahnya kecukupan vitamin A disebut ikut memengaruhi kejadian BBLR bersama kondisi anemia selama masa kehamilan.

Sejalan dengan itu, awal trimester ketiga dipilih sebagai waktu intervensi karena penanganan harus lebih dini atau lebih awal dimana kebutuhan gizi ibu meningkat menjelang kelahiran.

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden Zahera Mega Utama menempatkan MBG 3B sebagai investasi strategis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut menyasar kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

“Program MBG 3B jangan sampai dinomorduakan. Distribusinya harus tepat sasaran, kualitas dan kuantitas makanannya harus dijaga karena kelompok penerima merupakan kelompok yang paling membutuhkan,” tegas Zahera, dikutip Sabtu (18/7).

Dalam pelaksanaannya, KSP dan Kemendukbangga/BKKBN memperkuat sinergi agar penyaluran MBG 3B mendukung percepatan penurunan stunting. Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita ditempatkan sebagai penerima prioritas karena berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Seperti diketahui, pencegahan BBLR tidak hanya membutuhkan pemenuhan makanan, tetapi juga pemeriksaan anemia, kecukupan vitamin A, dan pemantauan kehamilan. Dukungan tersebut melengkapi MBG 3B agar intervensi gizi menjangkau ibu sejak kehamilan selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *