PravadaNews – Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI didorong untuk memperkuat perannya tidak hanya sebagai pusat penyedia informasi dan sumber pengetahuan bagi masyarakat, tetapi juga sebagai corong literasi peradaban yang mampu memperkenalkan sejarah, budaya, serta kejayaan Nusantara kepada generasi muda.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menumbuhkan kesadaran kebangsaan, memperkuat pemahaman terhadap jati diri bangsa, dan menanamkan rasa bangga terhadap warisan peradaban Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi serta perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Dengan penguatan fungsi tersebut, Perpusnas diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam membangun karakter generasi penerus yang memahami akar sejarah dan nilai-nilai kebangsaan.
Anggota Komisi X DPR RI Muhammad Hoerudin Amin menilai, Perpusnas memiliki peran strategis sebagai penjaga memori kolektif bangsa.
Menurut Hoerudin, literasi yang dikembangkan Perpusnas tidak semestinya hanya berfokus pada informasi kekinian, tetapi juga harus mampu menghadirkan narasi besar tentang perjalanan dan pencapaian peradaban Nusantara.
“Kami berharap Perpusnas itu memang judul besarnya harus jadi literasi peradaban. Jadi bukan hanya informasi dari luar negeri, tapi informasi tentang kita,” ujar Hoerudin di Ruang Rapat Komisi X, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Legislator Fraksi PAN tersebut menilai generasi muda perlu lebih mengenal kekayaan sejarah dan kebudayaan bangsa sendiri. Hoerudin mengingatkan, Indonesia memiliki peradaban yang besar dan membanggakan, yang jejaknya bahkan dapat ditemukan hingga kawasan Pasifik. Karena itu, berbagai pencapaian nenek moyang bangsa perlu terus dikenalkan melalui penguatan literasi.
“Anak kita hari ini tahunya budaya impor, seolah-olah kita tidak punya peradaban yang besar, yang mewah, yang membanggakan. Padahal sejarah Nusantara menyimpan kekayaan yang luar biasa dan itu butuh dikenalkan kepada generasi muda,” kata Hoerudin.
Hoerudin menegaskan, kesadaran terhadap sejarah dan peradaban bangsa merupakan fondasi penting bagi penguatan karakter nasional. Menurutnya, bangsa yang melupakan akar budaya dan sejarahnya akan kehilangan arah dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Perpusnas akan menjadi sokoguru melahirkan kesadaran bangsa untuk sadar akan dirinya. Karena kalau lupa dengan budaya dan peradaban kita, kita tidak akan tahu siapa kita dan akan ke mana,” tegas Politisi asal Daerah Pemilihan Jawa Barat XI itu.
Hoerudin berharap Perpusnas dapat terus memperkuat perannya sebagai ruang pembelajaran dan penjaga warisan intelektual bangsa, sehingga literasi tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkokoh persatuan dan keberlanjutan peradaban Indonesia.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menyebut masyarakat Indonesia belum sepenuhnya masuk dalam kategori literat. Hal ini dikarenakan masih rendahnya budaya baca. Pasalnya, rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca sekitar 5,91 buku per tahun dengan waktu membaca yang sangat terbatas.
“Waktu membaca hanya sekitar 129 jam per tahun, kondisi ini menunjukkan masyarakat Indonesia belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai masyarakat literat,” ujar Aminudin dikutip dari laman Perpusnas.
Menurut Perpusnas, literasi tidak hanya berarti kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami informasi tekstual dan non tekstual, memahami perbedaan budaya, berpikir kritis, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan gagasan baru.
“Kemampuan berpikir tingkat tinggi inilah yang menjadi tujuan utama Pendidikan,” lanjutnya.
Dalam era digital, Kepala Perpusnas mengatakan, tantangan besarnya, yakni berupa banjir informasi yang datang dari berbagai sumber, terutama media sosial.
Arus informasi yang begitu cepat menuntut masyarakat memiliki kemampuan berpikir kritis serta kecakapan memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya.















