Ilustrasi uang rupiah Indonesia dan Minyakita. (Foto: Dok. PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Tekanan Rupiah Dorong Biaya Produksi MinyaKita Naik

Tekanan Rupiah Dorong Biaya Produksi MinyaKita Naik

PravadaNews – Harga MinyaKita yang masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) menghadapi tambahan tekanan biaya produksi seiring pergerakan nilai tukar rupiah.

Asisten Peneliti Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Azhar Syahida menempatkan kurs sebagai salah satu faktor biaya produksi minyak goreng. Perubahan nilai tukar memengaruhi beban produsen sebelum minyak goreng disalurkan ke pasar.

“Pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya produksi minyak goreng,” tulis Azhar kepada PravadaNews, dikutip Minggu (19/7/2026).

Adapun, alumni Universitas Brawijaya tersebut tidak menempatkan rupiah sebagai penyebab tunggal harga MinyaKita melampaui HET. Azhar sebelumnya menyebut harga minyak goreng dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan.

Azhar tidak mengaitkan nilai tukar secara langsung dengan keputusan harga pada tingkat pengecer. Azhar menempatkan tekanan kurs lebih dahulu pada perhitungan biaya selama proses produksi minyak goreng.

Selanjutnya, ekonom CORE tersebut melihat kenaikan ongkos produsen dapat mempersempit ruang penyesuaian harga MinyaKita terhadap HET. Analisis itu menjadikan stabilitas rupiah sebagai salah satu unsur dalam menjaga biaya produksi minyak goreng.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah sebesar Rp17.944 per dolar Amerika Serikat yang menjadi data kurs resmi pada 17 Juli 2026.

Sehubungan dengan itu, rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat berdasarkan catatan rupiah sebesar Rp17.730 per dolar Amerika Serikat pada 17 Juni 2026. Perubahan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian global dan kebutuhan valuta asing korporasi untuk kegiatan ekonomi.

Bank Indonesia memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah untuk memitigasi kenaikan inflasi impor dan menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026–2027.

Seperti diketahui, inflasi impor atau imported inflation dapat muncul ketika pelemahan rupiah meningkatkan biaya barang maupun komponen yang diperoleh. Dalam konteks MinyaKita, adanya tekanan nilai tukar sebagai salah satu faktor yang menambah biaya produksi minyak goreng.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *